Skip to content

MASA BAYI DAN TUGAS-TUGAS PERKEMBANGAN PADA MASA BAYI(Nurhijah Agustini )

MASA BAYI DAN TUGAS-TUGAS PERKEMBANGAN PADA MASA BAYI

BAB I

PENDAHULUAN

Para ahli psikologi perkembangan pada masa bayi ini menjadi dua bagian yaitu masa orok dan masa bayi itu sendiri. Dan masing-masing bagian akan memperlihatkan ciri-ciri pokok pada setiap fase perkembagnan. Masa orok atgau masa anak baru lahir merupakan masa perkembangan yagn terpendek dalam kehidupan manusia,m yagn dimulai sejak lahir dan berakhir ketika ia mencapai umur dua minggu. Masa orok terbagai menjadi dua masa, yakni masa furtunate dan masa neonate.

Sedangkan masa bayi dimulai sejak berkhirnya masa orok, dua mi ggu setelah kelahiran sampai akhir tahun ke dua dari kehidupan. Sementara itu, pada umumnyaa bayi relatif telah tidak bergantung lagi pada bantuan orang dewasa dan telah dapat melakukan banyak hal untuk dirinya sendiri. Berkurnagnya tketidak berdayaan dan bertambahnya kemampuan untuk berdiri sendiri disebabkan oleh perkembangan penguasaan badan yagn cepat yang memungkinkan bayi duduk, berdiri, berjalan dan meamnipulasikan objek-objek semaunya. Dari beberapa definisi ini kami akan membahas beberapa perkembangan pada masa bayi yaitu :

 

Rumusan masalah

  1. Bagaimana proses perkembangan pada masa bayi ?
  2. Bagaimana perkembangan masa orok (masa penyesuaian sejak lahir sampai umur 2 minggu ?
  3. Bagaimana perkembangan masa bayi (2 minggu sampai 2 tahun)?

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

MASA BAYI DAN TUGAS-TUGAS PERKEMBANGAN PADA MASA BAYI

  1. Masa Orok (masa penyesuaian sejak lahir sampai umur 2 minggu)

Masa orok atau masa infasi adalah masa perkembangan individu yang berlangsung sangat singkat dan merupakan masa yang sangat pendek dalam kehidupan manusia, setelah di lahirkan. Lamanya masa ini adalah sejak lahir sampai umur 2 minggu. Masa ini terbagi 2 periode, yaitu; (1) masa fortunate yang  berlangsung sejak bayi lahir sampai 15-30 menit pertama sampai diguntingnya tali pusat. Dan (2) masa neonate, yang berlangsung sejak diguntingnya tali pusat sampai usia 2 minggu.

  1. Maya Penyesuaian.

Adapun penyesuaian-penyesuaian yang penting dialami oleh bayi yang baru lahir tersebut ada 4 macam, yaitu :

  1. Penyesuaian dengan perubahan temperatur. Ketika masih di dalam kandungan bayi terbiasa dengan temperatur yang mantap sekitar 100%.
  2. Penyesuaian dengan bernafas. Ketika masih dalam kandungna oxygen diperoleh dari placenta (tali pusat). (Akmal Hawi, 2008).
  3. Penyesuaian kepada mengisap dan menelan sebagai cara untuk memperoleh makanan untuk menggantikan cara penerimaan makanan dari plasenta melalui tali pusat.
  4. Penyesuaian kepada cara pembuangan melalui organ-organ eksresi, yang sebelumnya terjadi melalui tali pusat dan plasenta, seperti halnya pada masa prenatal.(Ely Manizar, 2009).

Bagi bayi yang baru lahir penyesuaian terhadap keempat hal tersebut adalah sulit. Karena daya penyesuaian terhadap keempat macam hal tadi tergantung pada :

1)         Proses lahir, yaitu apakah melalui operasi, dengan pertolongan alat atau dengan jalan normal.

2)         Lamanya proses lahir itu.

3)         Keadaan ketika masih dalam kandungan, terutama menjelang bulan-bulan terakhir dari masa kandungan.

Bagi yang dilahirkan dengan mudah (normal) lebih cepat mengadakan peneysuaian dengan lingkungan daripada bayi yang sulit lahir (lahir dengan pertolongan/operasi).  Tapi tidaklah semua bayi yang baru dilahirkan dapat meneysuaikan diri dengan baik. Akibat dari kegagalan penyesuaian diri dapat menimbulkan kematian.

  1. Perkembangan Fisik.

Dalam membicarakan perkembangan fisik pada masa orok inilah akan dibagi dalam beberapa perincian, yaitu :

1)      Besar Tubuh

  1. Makanan ibu, terutama bulan-bulan terakhir dari kehamilan.
  2. Anak pertama lebih kecil dari anak selanjutnya.
  3. Aktifitas janin berpengaruh pula pada ukuran bayi yang lahir.

2)      Besar Tubuh

Kepala  bayi sekitar seperempat dari panjang tubuhnya, sedangakan pada orang dewasa kepala itu kira-kira seperrtujuh dari panjang tubuhnya.

3)      Sifat-sifat bayi.

Otot mata belum terkendali, sehingga gerakan mata belum terarah dan belum terkoordinasi. Kelenjar air mata berlum bertugas sehingga tangis orok tanpa disertai air mata belum bertugas sehingga tangis orok tanpa disertai air mata. Lebar pendek sehingga tidak tampak. Kepala ditutupi rambut yang bagus.

4)      Fungsi-fungsi Fisiologis.

Denyut nadi waktu lahir adalah 130-150 permenit. Beberapa hari kemudian turun sampai rata-rata 117 kali. Denyut nadi orang dewasa rata-rata 70 permenit. Waktu bayi tidur, denyut nadinya 123.5 dan waktu menangis 218.2. Gerakan nafas pada minggu pertama adalah 35 permenit dan pada minggu kedua 38-40 permenit. Umur satu tahun 27,8. Umur 10-15 tahun 19,1 dan pada orang dewasa 18 permenit.

 

5)      Gerakan Orok.

Irwin membagi gerakan orok menjadi dua kelompok yakni; (1) gerakan umum dan gerakan khusus. Gerakan umum itu adalah gerakan seluruh badan bayi, sedangkan gerakan khusus hanya terbatas pada bagian-bagian tertentu saja. Gerakan khusus ini meliuti: reflek, yaitu respon khusus terhadap rangsangan-rangsangan luar maupun rangsangan dalam serta mencakupi bagian-bagian otot badan yang lebih luas daripada reflek.

  1. Gerakan Umum

Bila suatu bagian tubuh terkena rangsangan, maka timbul respon pada bagian terangsang itu, lalu diikuti oleh bagian terangsang itu, lalu diikuti oleh bagian-bagian tubuh lainnya.

  1. Gerak Khusus.
  2. Reflek.

Umumnya orang mengatakan bahwa gerakan yang tidak disadari. Oleh karena bayi yang baru lahir dipandang belum mempunyai kesadaran, maka gerakannya itu dinamakan gerakan reflek.

  1. Respon Umum

Hurlock mempergunakan istilah respon umum, karena respon ini menyebar bila dibandingkan dengan respon reflek. Jadi sebenarnya tidak ada perbedaan yang prinsipil. Ciri dari gerak ini adalah tidak menentu, tidak bertujuan dan tidak terkoordinasi.(Akmal Hawi, 2008)

6)      Vokalisasi anak yang baru lahir

Biasanya menangis dimulai pada waktu anak lahir atau segera setelah dilahirkan. Tangis pada waktu lahir merupakan kegiatan refleks semata sebagai masuknya udara dengan cepat melalui tali suara yang menyebabkan bergetar. Tangis dari anak keras suaranya dan ditandai dengan pernafasan yang teratur. Maksud dari tangis kelahiran adalah untuk menggelembungkan paru-paru, sehingga memungkinkan pernafasan dan menyediakan oksigen yang cukup bagi darah. Sigmund Freud, mengemukakan bahwa kelahiran itu merupakan trauma, dan penghayatan yang dramatis.(Abu Ahmadi & Munawar Sholeh, 2005).  Menurut Hurlock menganggap tangis lahir ini murni reflek dan disebabkan oleh udara yang terdesak dengan mengenai tali suara, sehingga tali suara itu bergetar tapi tak sependapat dengan Kant dan Adler mereka menganggap bahwa pendapat Hurlock sebagai tafsiran yang fantastis. Menurut Kant tangis yang baru lahir itu adalah suara tangisan kemarahan pada kelahiran yang mengagetkan itu. Adler menganggap sebagai suatu tanda rasa rendah diri yang timbul mendadak karena ditempatkan ke dalam lingkungan yang sangat baru dan rumit.

Akan tetapi pendapat ketiga  orang tersebut, tidak lebih dari tafsiran. Oleh karena itu belum tentu benar. Kalau diperhatikan realitas kelahiran bayi itu, maka terdapat beberapa hal, yakni: (1) perubahan lingkungan; (2) yang berlangsung dengan tiba-tiba; dan (3) setelah melewati tempat keluar yang sempit. Jadi unsur yang riil yang menyebabkan bayi itu menangis, yaitu rasa sakit dan terperanjat. (akmal Hawi, 2008).

7)      Perkembangan Tangis

Kalau tangis disebabkan oleh rasa sakit, terkejut, tidak enak, maka tangis selanjutnyapun tetap berpangal pada sebab-sebab itu hanya sumber sebabnya berbeda. Di samping itu irama tangisnyapun sudah mengalami perkembangan.

Hurlock mengemukakan empat macam tangis bayi yakni (1) tidak enak, iramanya monoton, staccato yaitu keras dan terputus-putus; (2) rasa sakit iramanya tertahan, muka merah, mulut terbuka lebar, walaupun rasa marah itu sudah berkurang, tetapi sedu sedannya masih terus; dan (4) lapar, nada suaranya tinggi

Ibu rajin memperhatikan tangis bayinya akan dapat membedakan tangis bayi itu. (Akmal Hawi, 2008). Tangis bersifat reflex dan merupakan respons terhadap rangsangan tertentu. Orok lebih banyak menangis disebabkan oleh lapar dan alasan-alasan lain yang tidak diketahui dari pada sebab-sebab lainnya.(Ely Manizar, 2009)

8)      Pembentukan kepribadian

Dasar-dasar kepribadian sebagaimana halnya dengna sifat-sifat fisik lainnya berasal dari sifat-sifat kebakaan dan selanjutnya berkembang melalui lingkungan dan belajar. Bagaimanapun besarnya pengaruh lingkungan, namun sifat kebakaan akan memainkan peranan utama dalam perkembangan kepribadian. Sejak anak dilahirkan telah tampak petunjuk-petunjuk yang nyata mengenai kepribadiannya.

Selanjutnya lingkungan terutama ibu dan bagaimana sikap ibu dalam mengasuh, merupakan faktor penentu yang penting dalam perkembangan pola kepribadian si anak kelak. Demikian pula halnya jika ibu tidak dapat memberikan air susunya karena situasi yang tidak mengizinkan serta perlakuan gegabah dalam memberikan dotnya.

Ibu yang bijaksana akan bersikap hati-hati dalam memberikan botol susu pada bayinya dengan rasa kehangatan dan perhatian seolah-olah ibu sendiri yang sedang memberikan makan tersebut. Hal yang demikian akan membantu terwujudnya kepribadian yang diharapkan.

 

  1. Masa Bayi (2 Minggu sampai 2 tahun)

Masa bayi dimulai sejak berakhirnya masa orok (2 minggu setelah kelahiran sampai akhir tahun kedua dari kehidupan). Jika pada masa orok, kehidupan bayi sangat tergantung pada bantuan orang dewasa, maka pada masa bayi ketergantungan itu sudah mulai berkurang.

Masa bayi adalah masa peletak dasar bagi kehidupan anak, dimana dasar-dasar kebanyakan  pola tingkahlaku, sikap orang lain dan diri sendiri serta banyak pola pengungkapan emosional terbentuk. Masa ini disebut juga dengan masa “kritis” dalam perkembangan anak, karena perkembangan selanjutnya terbentuk berdasarkan pondasi pada masa ini.

Masa bayi merupakan usia menarik. Allah SWT telah memperlengkapi bayi dengan daya tarik tersendiri. Setiap gerak-geriknya.

  1. Perkembangan Fisik

Dalam rentangan kehidupan terdapat dua masa dimana pertumbuhan fisik berjalan dengan pesat, yaitu pada masa prenatal dan masa post natal (terjadi pada masa bayi dan masa pubertas).(akmal Hawi, 2008,53)

Masa bayi merupakan  satu dari dua masa pertumbuhan yang satu lagi terjadi pada masa pubertas. Selama enam bulan pertama dari kehidupan, pertumbuhan berlangsung dengan kecepatan seperti pada masa pre-natal dan kemudian mulai mengendur. Pada tahun kedua pertumbuhan mulai menurun dengan tempo yang cepat. Dinyatakan dalam bentuk persentase, petumbuhan dalam berat badan selama tahun pertama ialah 200 %, dan pada tahun kedua 25-30 %. Pertumbuhan dalam tinggi badan adalah 50 persen pada tahun pertama dan 20 % pada atahunkedua.

Ukuran baju bayi mencerminkan pola pertumbuhan yang universal dan dapat diramalkan. Pada usia bulan-bulan pertama berat badan berat badan bayi bertambah sekitar 5 hingga 6 ons per minggu, dan ketika usia 4 bulan berat badannya naik dua kali lipat. Dan pada tahun kedua kehidupan bayi rata pertumbuhannya mengalami perlambatan, dimana usia 2 tahun beratnya mencapai sekitar 16 kg dengan tinggi 32 hingga 35 inci.

Pola pertumbuhan bayi adalah sama bagi pria dan wanita. Selama tahun pertama, pertambahan berat badan secara proposional adalah lebih besar dari pada pertumbuhan tinggi badan, pada tahun kedua sebaliknya yang terjadi.

Sebagai mana halnya dengan pertumbuhan dalam ukuran, masa bayi juga merupakan masa petumbuhan yang cepat bagi tulang-tulang. Pada usia 6 bulan bayi dapat duduk tanpa dukungan, dan pada usia 7 bulan dapat merangkak dan berdiri tanpa dukungan. Pada usia 8 bulan bayi dapat menyangga tubuh hingga ke posisi berdiri, pada usia 10 bulan hingga 11 bulan dapat berjalan menggunakan kursi atau meja sebagai alat bantu, dan pada usia 12 hingga 13 bulan bayi pada umumnya dapat berjalan tanpa bantuan.

Dari 20 gigi seri, kira-kira 16 telah tumbuh sebelum masa bayi berakhir. Gigi pertama muncul kira-kira pada usia 6-8 bulan. Gigi seri tengah sebelah bawah muncul lebih dahulu baru gigi seri bagian atas. Pada umur satu tahun, rata-rata bayi mempunyai 4 sampai 6 buah gigi, dan pada umur dua tahun, 1 buah gigi. Waktu tumbuhnya gigi sangat bervariasi dan tergantung dari faktor-faktor kecenderungan kabakaan, kesehatan, gizi dan jenis kelamin. Urutan pertumbuhan gigi adalah lebih penting dari pada usia tumbuhnya gigi, oleh karena itu bila terjadi ketidak teraturan dalam urutan pertumbuhan gigi mungkin sekali akan menyebabkan posisi rahang tidak baik dan susunan gigi yang rusak. (Ely Manizar, 2009)

 

  1. Perkembangan Otak

Pertumbuhan yang cepat dalam system syaraf merupakan karakteristik dari tiga sampai empat tahun pertama setelah kelahiran. Pertumbuhan terutama terdiri dari perkembangan sel-sel yang belum matang pada waktu kelahiran dan bukan merupakan pembentukan sel-sel baru. Diperkirakan bahwa seperempat dari berat otak orang dewasa dicapai pada usia Sembilan bulan, dan tiga perempat pada akhir tahun kedua. Pada saat lahir berat otak bayi seperdelapan dari berat total atau sekitar 25 % dari berat otak orang dewasa, maka pada ulang tahun kedua otak bayi sudah mencapai kira-kira 75 % dari otak dewasanya.

  1. Perkembangan Penginderaan

Organ keinderaan berkembangan dengan cepat selama masa bayi dan sanggup berfungsi dengan memuaskan sejak bulan-bulan pertama dari kehidupan. Dengan berkembangnya koordinasi otot-otot mata pada bulan ketiga, maka bayi sanggup melihat dengan jelas. Menurut Agoes Dariyo ada lima indera yang bergfungsi aktif pada bayi yaitu : (1) sentuhan, (2) penciuman, (3) Pengecapan, (4) Sentuhan.

  1. Fungsi-fungsi Fisiologis

Masa bayi merupakan masa pembentukan dasar pola fisiologis mengenai makan, tidur dan buang air. Walaupun pada akhir masa bayi pembentukan kebiasaan itu belum sempurna, tetapi dasar-dasar yang baik sudah terbentuk, karena semakin lama akan semakin sulit memperkembangkan kebiasaan-kebiasaan fisik yang baik.

  1. Penguasaan Otot-otot

Untuk dapat  berdiri sendiri anak aharus mampu mengendalikan otot-ototnya. Hal in sangat penting artinya bila ia hendak melakukan apa yang ingin ia lakukan dan bila akan dilakukannya. Salah satu bidang perkembangan yang utama ialah penguasaa otot-ototnya.

  1. Perkembangan Bahasa

Ada tiga bentuk pra bahasa yang normal muncul dalam pola perkembangan bahasa yaitu menangis, mengoceh dan isyarat. Menangis adalah bentuk pra-bahasa yang paling banyak dipakai selama bulan-bulan pertama dari yang paling banyak dipakai selama bulan-bulan pertama dari kehidupan, walaupun dari sudut pandang jangka panjang Mengoceh adalah lebih penting karena merupakan dasar bagi perkembangan bahasa yang sebenarnya. Isyarat dipakai bayi sebagai pengganti bahasa, sedangkan pada anak-anak lebih tua atau orang dewasa isyarat dipakai sebagai pelengkap bahasa.   Pada masa bayi ini pun terjadi permulaan dari perkembangan bicara melalui empat tahap yaitu antara lain:

  • Para pengoceh (berupa tangisan dan bunyi bahasa tertentu).
  • Mengoceh (6-12 bulan).
  • Kalimat satu kata (12-15 bulan).
  • Kalimat dua kata (terjadi bila anak telah memiliki perbedaan kata sebanyak 50 kata). (akmal Hawi, 2008).
  1. Perkembangan Emosi

Emosi bayi berkembangan dari bentuknya yang sangat sederhana, yang muncul pada waktu lahir dalam bentuk-bentuk yang tidak terarah yang dapat ditimbulkan oleh berbagai macam perangsang atau stimuli yang luas.

  1. Perkembangan Sosial

Pengalaman-pengalaman social yang mula-mula dialami anak dalam lingkungan keluarga, memainkan peranan penting dalam penentuan sikap dan prilakunya terhadap hubungan-hubungan  social. Oleh karena kehidupan bayi terpusat di lingkungan rumah, maka dasar-dasar bagi sikap dan prilaku sosialnya dikemudian hari “disemai” di rumah.

  1. Perkembangan Bermain

Bermain atau setiap kegiatan yang menimbulkan kesemenangan, dimulai dalam bentuk yang sederhana pada masa bayi. Bermain pada masa ini terutama terdiri dari gerakan-gerakan yang tidak menentu dan perangsangan organ-organ keinderaan.

Pada tahun kedua, permainannya telah lebih teratur dan boneka dipakai untuk berbagai macam kegiatan permainan. Ciri khas pada usia ini ialahpermainannya banyak melibatkan kegiatan-kegiatan berjalan, melempar dan memungut kembali benda-benda, ataupun memasukkan dan mengeluarkan benda-benda dari tempatnya. Oleh karena koordinasi otot-ototnya belum baik, maka bayi sering bersifat merusak dalam bermain dengan benda-benda permainannya.

  1. Perkembangan Pengertian

Bayi memulai hidupnya dengan tidak mempunyai pengertian tentang apa yang diamatinya dalam lingkungan sekitarnya. Oleh karenanya ia harus memperoleh pengertian tentang sesuatu yang diamatinya melalui kematangan dan belajar. Pengertian yang diperoleh sebagaian akan tergantung dari tingkat kecerdasan dan sebagian lagi tergantung pada pengalaman  masa lalunya. Kenangan masa lalunya akan merupakan dasar penafsiran pengalaman-pengalaman barunya.

Dari tingkahlaku bayi terlihat bahwa, sejak awal usianya konsep-konsep berkembangan dengan cepat. Umpanya pengenalan bayi terhadap orang-orang dan benda-benda yang tidak  asing baginya dalam lingkungan di mana ia berada, diperlihatkan melalui respon yang menyenangkan sama halnya dengan pengenalan terhadap orang-orang dan benda-benda yang asing baginya selalu disertai dengan rasa takut.(Akmal Hawi, 2008).

  1. Sikap moral dan tingka laku

Bayi tidak mempunyai kata hati dan skala nial. Oleh karenanya ia tidak dapat dikatakan bermoral ataupun tidak bermoral, tetapi ia adalah nonmoral dalam arti bahwa tingkah lakunya tidak berpedomankan pada ukuran-ukuran nilai. Pada waktu ia akan belajar dari orang tuanya, dari teman-temannya, dari guru-gurunya mengenai nilai-nilai moral dari masyarakat dan keperluannya untuk menyesuaikan diri dengan norma-norma tersebut.

  1. Hubungan Keluarga

Sikap-sikap dan tingkah laku individu sepanjang kehidupan sangat dipengaruhi oleh pengalaman-pengalaman yang pertama-tama. Oleh karena lingkungan pertama terbatas pada lingkungan keluarga, maka hubungan keluarga memegang peranan yang sangat menentukan menjadi manusia apa ia kelak.

Bayi membutuhkan pemeliharaan yang terus menerus dari satu orang tertentu selama sembilan  bulan pertama dari kehidupannya untuk memberinya jaminan rasa aman. Untuk memberikan perhatian terhadap bayi merupakan tugas dan kewajiban orang tua, mereka harus siap merawat bayi seperti (1) mengganti popok pakaian setiap saat, (2) memberi air susu ibu, (3) memandikan bayi, (4) memeriksakan kesehatan ke dokter, puskesmas, rumah sakit, (5) menemani bermain bersama dan sebagainya.

  1. Kepribadian

Kepribadian tidaklah terdiri dari sejumlah, sifat-sifat akan tetapi merupakan perpaduan dan organisasi dari sifat-sifat kedalam suatu pola. Inti atau titik berat dari pola ini sikap-sikap dan kebiasaan-kebiasaan yang telah terbentuk sejak awal kehidupan dan mengalami perobahan dan penghalusan bila anak bertambah usianya dan bertambah luas pengalaman hidupnya.

Ada 3 faktor yang terdapat didalam perkembangan kepribadian, individu, yakni (1) kebakaan, (2) pengalaman-pengalaman permulaan di dalam keluarga, dan (3) peristiwa-peristiwa kemudian hari.

Masa bayi merupakan “masa kritis” dalam perkembangan kepribadian oleh karena pada masa inilah diletakkan landasan-landasan, dan berdasarkan landasan-landasan ini pulalah akan dibangun struktur kepribadian dewasa.

Rasulullah SAW bersabda :

Artinya : “Tiap-tiap anak yang dilahirkan diatas fitrah, maka ibu bapaknyalah yang mendidiknya menjadi orang yagn beragama Yahudi, Nasrani dan Majusi”(Ely Manizar, 2009).  

 

 

KESIMPULAN

            Masa bayi dan perkembangan masa bayi terbagi menjadi dua yaitu (1) Masa Orok (masa penyesuaian sejak lahir sampai umur 2 minggu). (2) Masa Bayi (2 Minggu sampai 2 tahun). Masa orok atau masa anak baru lahir merupakan masa perkembangan yang terpendek dalam kehidupan manusia. Yang dimulai sejak lahir dan berakhir ketika ia mencapai umur dua minggu.

Masa ini disebut dengan masa penyesuaian terhadap temperature diluar kandungan, pernafasan, cara membuang kotoran, mengisap dan menelan. Aktivitas yang dilakukan adalah lebih banyak tidur dan melakukan gerakan reflek. Sementara masa bayi dimulai usia dua minggu hingga dua tahun. Masa bayi disebut juga dengan masa menarik, karena disukai oleh setiap orang.

Perkembangan yang terjadi sangat cepat, gigi mulai tumbuh, belajar berbicara, berjalan, berekrespresi melalui senyuman, menangis dan tertawa. Peran orang tua sangat diperlukan untuk meletakkan pola-pola dasar terhadap pembentukan sikap dan tingkah laku.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Ahmadi, Abu & Shaleh Munawar, Psikologi Perkembangan, Jakarta : Rineka Cipta,

2005.

Hawi, Akmal, Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja, Palembangan : IAIN Raden

Fatah Press, 2004,

Hawi, Akmal, Perkembangan Pemikiran Pendidikan Islam, Palembang : IAIN Raden

Fatah Press, 2006.

Manizar, Ely, Psikologi Perkembangan, Palembang : Grafika Telindo, 2009.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

MAKALAH ILMU JIWA PERKEMBANGAN

MASA BAYI TUGAS-TUGAS

PERKEMBANGAN PADA MASA BAYI

D

I

S

U

S

U

N

Oleh : Kelompok 06

Muhammad Dahwi  : 09210099

Nurhijah Agustini    : 09210111

Novitasari                 : 09210109

Paradilla                   : 0921009

 

 

DOSEN PEMBIMBING

Dra. Ely Manizar, M. Hum

FAKULTAS TARBIYAH

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI RADEN FATAH

PALEMBANG TAHUN 2010

 

 

Nurhijah Agustini hubungan antara media Internet dengan prestasi Akademik Mahasiswa IAIN

HUBUNGAN ANTARA MEDIA INTERNET DENGAN  PRESTASI AKADEMIK MAHASISWA  FAKULTAS TARBIYAH JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM IAIN RADEN FATAH PALEMBANG

 

 

TUGAS AKHIR

Disusun dan diajukan kepada Dosen pengampu

Pada Mata Kuliah Metodologi Penelitian

sebagai penilaian Akhir Semester

 

 

Disusun Oleh

 

NURHIJAH AGUSTINI

NIM  09210111

Jurusan  Pendidikan Agama Islam

 

 

FAKULTAS TARBIYAH

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)

RADEN FATAH PALEMBANG

2011

HUBUNGAN ANTARA MEDIA INTERNET DENGAN  PRESTASI AKADEMIK MAHASISWA  FAKULTAS TARBIYAH JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM IAIN RADEN FATAH PALEMBANG

Oleh : Nurhijah Agustini

  1. A.    Latar Belakang

Pada umumnya para mahasiswa di setiap universitas akan menggunakan system internet yang sangat menunjang dalam setiap pelaksanaan pembelajaran. Jaringan internet sebenarnya merupakan kumpulan dari berbagai jaringan komputer di seluruh dunia. Jaringan Internet pada awalnya juga merupakan jaringan komputer yang menghubungkan beberapa buah perguruan tinggi di Amerika Serikat. Namun karena dukungan berbagai faktor, jaringan ini berkembang sangat cepat hingga akhirnya menjangkau seluruh dunia. Perkembangan Internet yang demikian cepat didukung oleh meningkat pesatnya layanan yang disediakan.

Melalui dari WWW (Word Wide Web), email (electronic mail), dan sebagainya begitu cepat berkembang sehingga kemudian banyak digunakan sekarang ini.[1] Begitupun juga Perusahan-perusahaan komersil terutama menggunakan layanan WWW untuk meletakkan porfil dan iklan perusahaannya sehingga bisa dikunjungi oleh banyak pengunjung. Bahkan trasnsaksi lewat layanan WWW  ini sudah cukup banyak dilakukan untuk mempercepat transaksi. Namun perkembangan ini juga menimbulkan potensi keamanan seperti yang dibahas sebelumnya.[2]

Internet adalah sistem global jaringan komputer yang saling berhubungan yang menggunakan standar Internet Protocol Suite (TCP / IP) untuk melayani miliaran pengguna di seluruh dunia. Ini adalah jaringan dari jaringan yang terdiri dari jutaan swasta, publik, bisnis akademik,, dan jaringan pemerintah, dari lokal untuk lingkup global, yang dihubungkan oleh sebuah array yang luas dari teknologi jaringan elektronik dan optik. Internet membawa berbagai macam sumber informasi dan jasa, seperti dokumen hypertext antar-link dari[3]

Internet tidak selamanya berbahaya buat anak peserta didik. Internet tidak selalu dikatakan ladang dan peluang untuk bermaksiat. Internet tidak selalu memberikan dampak negatif, khususnya bagi anak sekolah yang kerap menghabiskan waktu dengan chatting dan main game online yang hanya menyita waktu belajar. Internet ternyata juga mempunyai sisi positif yang bila dimanfaatkan, akan mendatangkan maslahat dan kebaikan yang sangat besar bagi kita. Diantara manfaat yang dapat kita ambil dari Internet adalah Ilmu Pengetahuan. Beragam disiplin Ilmu dapat diakses dengan mudah dengan menggunakan Internet.

Sebagai salah satu contoh di dalam dunia pesantren. Memanfaatkan sarana Internet dalam Proses Belajar Mengajar di Pesantren Darunnajah Cipining sudah menjadi suatu keharusan bagi seorang guru. Tidak jarang seorang santri mendapatkan Pekerjaan Rumah yang materinya tidak mereka dapatkan dari Sekolah, tetapi mereka sendiri ( para santri) yang harus mencarinya di dunia maya atau Internet. Koneksi jaringan Internet yang Online 24 jam juga mendukung kebutuhan mereka. Dengan kondisi seperti ini, santri di Darunnajah Cipining selangkah lebih maju, karena Input Ilmu yang diterima lebih lengkap dan kompleks. Guru juga tidak perlu khawatir para santri mengakses materi-materi terlarang yang berbau Pornografi, karena Jaringan Internet sudah menerapkan system Open DNS, yang akan menolak materi Pornografi dan situs-situs lain yang tidak dikehendaki.[4]

Di dalam Al-qur’an disebutkan bahwasannya orang yang belajar dan mencari ilmu pengetahuan maka dia akan diangkat oleh Allah derajatnya sebagaimana surat Al-Mujadillah 11 :

ª(ìsùötƒ ª!$# tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä öNä3ZÏB tûïÏ%©!$#ur (#qè?ré& zOù=Ïèø9$# ;M»y_u‘yŠ 4 ª!$#ur $yJÎ/ tbqè=yJ÷ès? ׎Î7yz ÇÊÊÈ

Artinya :

Hai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam majlis”, Maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu”, Maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjaka.[5]

Dengan berkembangnya zaman maka berbagai proses pembelajaran juga dilakukan oleh para manusia seperti belajar jarak jauh dengan menggunakan jaringan internet seperti,  e-learning. e-Learning adalah proses pembelajaran yang memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) secara sistematis dengan mengintegrasikan semua komponen pembelajaran, termasuk interaksi pembelajaran lintas ruang dan waktu, dengan kualitas yang terjamin. E-learning juga diartikan model belajar memperkaya pengetahuan melalui berbagai situs yang terdapat dalam jaringan internet. Belajar tidak dibatasi dalam suatu paket seperti pada web-based training, tetapi siswa bebas memilih situs yang diharapkan akan berisikan bahan belajar yang dibutuhkannya. Jumlah bahan belajar amat tergantung pada kebutuhan  siswa, dan waktu mengakses internet pun tidak dibatasi. Model belajar ini dititikberatkan pada perluasan dan pendalaman serta pembaharuan (updates) pengetahuan.[6]

Dalam system internet ini penulis akan menghubungkannya dengan prestasi akademik mahasiswa dalam proses belajar. Namun, apakah pengertian prestasi belajar siswa secara tertulis ini menjadi jaminan akan kepahaman seorang siswa terhadap disiplin ilmu yang dipelajarinya? Jawabnnya adalah belum tentu, diantaranya disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain:

  1. Cara belajar. Kebanyakan, cara belajar yang dilakukan dan diajarkan oleh para pendidik masih sekadar teks book dan menghapal. Siswa diajarkan untuk menghapal sebuah materi bukan memahaminya.

Akibatnya tak jarang kita lihat, seorang mahasiswa yang semasa di kampus ia lagganan mengumpulkan nilai A, namun pada saat wawancara kerja ia tidak dapat memahami dan  memberikan contoh aplikasi yang diinginkan perusahaan. Ingat bahwa dunia kerja adalah dunia aplikasi, jadi cara belajar menghapal bukanlah cara yang tepat untuk kemudian Anda diterima dengan baik di dunia pekerjaan.

2.  Sistem pendidikan tanah air yang masih saja berbau korupsi, kolusi dan nepotisme.

Budaya KKN ternyata tak hanya kita jumpai di dunia politik dan bisnis saja. Penyakit korupsi akut yang menjangkiti masyarakat Indonesia ternyata juga berlaku di dalam sistem pendidikan Indonesia. Sebagai contoh banyaknya kecurangan-kecurangan yang terjadi pada pelaksanaan ujian nasional. Karena merasa malu jika anak-anak sekolahnya tidak lulus, tak jarang sebuah sekolah membentuk sebuah panitia kelulusan yang tugasnya memberikan jawaban kepada para siswa yang sedang melaksanakan ujian.

Ada juga para generasi tua yang kesulitan menulis tugas akhir untuk penyelesaian studinya, akhirnya memilih mengupahkan penyelesaian studinya kepada orang yang dianggap bisa. Dengan bayaran yang sebanding, skripsi buatan orang pun akhirnya melenggangkan seseorang memperoleh predikat gelar sarjana.

Cara-cara kotor sistem pendidikan tanah air yang seperti ini akhirnya tanpa sadar merusak makna pengertian prestasi belajar siswa yang sesungguhnya. Kondisi ini kian memperburuk wajah pendidikan Indonesia.

Dari sini akhirnya bermunculan generasi intelektual penipu yang pada akhirnya diberi jabatan penting di negeri ini. Bisa dibayangkan penipuan apalagi yang akan dilanjutkan setelah para penipu ini menduduki jabatan. Jadi sebetulnya pendidikan merupakan salah satu upaya dasar untuk penyelesaian permasalahan kompleks budaya korupsi di tanah air.

Para pendidik punya kewajiban melahirkan anak-anak didik yang tak hanya memiliki potensi intelektual, namun yang tak kalah penting adalah moral dan kejujuran dari kaum intelektual tersebut.

3.  Para pelajar dan peserta didik lebih memfokuskan pada pengetahuan akademik.

Sehingga melupakan keterampilan, soft skill, dan keahlian sebagai tuntutan nyata di masyarakat. Anda tentu tidak asing dengan yang dikatakan dengan istilah sekolah kehidupan. Sekolah kehidupan menjadikan kehidupan ini sebagai tempat utama untuk belajar. Setiap peserta didik dituntut betul untuk dapat memahami dan mampu mengaplikasikan apa yang telah ia pelajari. Peserta didik tidak diikat pada nilai-nilai akademik semata, sebaliknya diberi kebebasan untuk dapat belajar secara mandiri dari alam, masyarakat dan kehidupan nyata.[7]

Namun demikian pada proses belajar melalui media internet  juga bisa belajar dalam bentuk asynchronous. Belajar dalam bentuk asynchronous dapat berupa belajar melalui paket pelatihan ataupun belajar dalam rangka memperluas wawasan dan memperbaharui pengetahuan. Belajar melalui paket pelatihan lebih ditujukan kepada pembelajaran yang ingin meningkatkan keterampilannya terutama yang berkaitan dengan bidang pekerjaaannya. Sebagai contoh, jika pengguna ingin meningkatkan skor TOEFEL, maka ia dapat mengambil paket pelatihan TOEFEL yang diselenggarakan melalui internet. Dalam hal ini tempat belajar adalah tempat di mana pengguna mengakses internet (bisa di mana saja asal computer yang digunakan dapat mengakses internet), dan waktu belajar ditetapkan sendiri oleh pengguna, sehingga kecepatan (pace)belajar tergantung pada pengguna, makin cepat ia dapat mengikuti test TOEFEL tersebut.[8]

Dengan menggunakan media internet akan menghasilkan prestasi yang merupakan perubahan dalam hal kecakapan tingkah laku, ataupun kemampuan yang dapat bertambah selama beberapa waktu dan tidak disebabakan proses pertumbuhan, tetapi adanya situasi belajar.[9]

Jadi hubungan media Internet dengan prestasi akademik yaitu untuk menunjukkan suatu pencapaian tingkat ke berhasilan tentang suatu tujuan, karena suatu usaha belajar telah dilakukan oleh seseorang secara optimal[10] dengan menggunakan media Internet seseorang akan mendapat banyak pengetahuan yang akan menambah ilmu pengetahuan diri mereka untuk menunjang dalam berfikir luas tentang pengetahuan itu supaya menjadikan mahasiswa aktif dalam menanggapai ilmu yang diterima bukan saja taklid tapi juga menerima dengan berbagai landasan yang diperoleh oleh berbagai aspek.

Dari beberapa keterangan ini maka penulis mengambil judul   “Hubungan Antara Media Internet dengan  Prestasi Akademik Mahasiswa di Fakultas Tarbiyah Jurusan Pendidikan Agama Islam  Angkatan 2009 IAIN Raden Fatah Palembang”

  1. B.     Identifikasi masalah        :

Berdasarkan uraian latar belakang diatas, maka dapat penulis paparkan beberapa masalah yang ada dalam penelitian ini. Bebrapa masalah itu adalah sebagai berikut.

  1. Pengaruh media internet bagi Dosen dan Mahasiswa dalam system belajar mengajar
  2. Persfektif mahasiswa tentang jaringan internet di kampus IAIN yang kurang memadai
  3. Kurangnya jaringan wireless di kampus menyebabkan kesulitan dalam pengaksesan internet
  4. Prestasi mahasiswa di IAIN Raden Fatah Palembang ketika tidak bisa mengakses  di internet  sering mengalami kemunduran
    1. C.    Rumusan masalah
    2. Bagaimana  media internet di akses  oleh Mahasiswa di Fakultas Tarbiyah Jurusan Pendidikan Agama Islam Angakatan 2009 IAIN Raden Fatah Palembang?
    3. Bagaimana Prestasi Akademik Mahasiswa di Fakultas Tarbiyah Jurusan Pendidikan Agama Islam Angakatan 2009 IAIN Raden Fatah Palembang  ?
    4. Bagaimana hubungan antara media internet dengan Prestasi Akademik Mahasiswa di Fakultas Tarbiyah Jurusan Pendidikan Agama Islam Angakatan 2009 IAIN Raden Fatah Palembang ?
      1. D.    Tujuan dan Kegunaan Penelitian

Adapun tujuan penelitian ini akan penulis uraikan satu persatu, tujuan tersebu adalah sebagai berikut :

  1. Untuk mengetahui Bagaimana  media internet di akses  oleh Mahasiswa di Fakultas Tarbiyah Jurusan Pendidikan Agama Islam Angakatan 2009 IAIN Raden Fatah Palembang.
  2. Untuk mengetahui Bagaimana Prestasi Akademik Mahasiswa dengan di Fakultas Tarbiyah Jurusan Pendidikan Agama Islam Angakatan 2009 IAIN Raden Fatah Palembang.
  3. Untuk mengetahui Bagaimana hubungan antara media internet dengan Prestasi Akademik Mahasiswa di Fakultas Tarbiyah Jurusan Pendidikan Agama Islam Angakatan 2009 IAIN Raden Fatah Palembang.

Sedangkan hasil penelitian ini penulis katagorikan menjadi dua orientasi kegunaan, berikut akan diuraikan satu persatu :

  1. Secara Teoritis

Secara teoritis, penelitian ini dapat berguna bagi dunia pendidikan sebagai salah satu solusi alternatif untuk meningkatkan akademik mahasiswa dalam penunjangan system media yang ada dalam Institut Agama Islam itu sendiri, terutama dalam pencarian ilmu pengetahuan dan juga tugas yang bisa langsung di cari dan di akses secara gratis dengan media internet yang ada.

  1. Secara Praktis

Secara praktis, penelitian ini dapat berguna bagi mahasiswa yang mendapatkan kesulitan dalam belajar untuk meningkatkan prestasi akademik yang sering kali menjadi hambatan mahasiswa dalam pencarian data untuk memenuhi kebutuhan belajar dikarenakan media dan jaringan virtual/media internet yang kurang di kampus IAIN Raden Fatah Palembang yang bisa mempermudah mahasiswa untuk mendapatkan prestasi yang lebih baik dan meningkat.

  1. E.     Kerangka Teori
  2. Pengertian Media dan Internet

Kata ‘media’ berasal dari  bahasa Latin dan merupakan bentuk jamak dari kata “medium”, yang secara harfiah berarti “perantara atau pengantar”.[11] Sementara itu Gerlac dan Ely mengatakan media adalah “manusia, materi atau kejadian yang membangun kondisi yang membuat siswa mampu memperoleh pengetahuan, keterampilan dan sikap.[12]

Sedangkan Internet adalah Internet adalah sistem global jaringan komputer yang saling berhubungan yang menggunakan standar Internet Protocol Suite (TCP / IP) untuk melayani miliaran pengguna di seluruh dunia. Ini adalah jaringan dari jaringan yang terdiri dari jutaan swasta, publik, bisnis akademik, dan jaringan pemerintah, dari lokal untuk lingkup global, yang dihubungkan oleh sebuah array yang luas dari teknologi jaringan elektronik dan optik. Internet membawa berbagai macam sumber informasi dan jasa, seperti dokumen hypertext antar-link dari.[13]

Jadi media internet yaitu media sebagai pengantar manusia dalam memperoleh pengetahuan, keterampilan dan sebagai informasi untuk penunjang mahasiswa/mahasiswi  ataupun masyarakat umum dalam meningkatkan prestasi akademik yang diperoleh dari situs-situs internet yang dapat menghubungkan dan melayani miliaran pengguna di seluruh dunia.

  1. Pengertian Prestasi Akademik

Penelitian tentang hubungan antara media internet dan prestasi akademik belum terlalu banyak di teliti oleh para mahasiswa IAIN Raden Fatah khususnya. tetapi mengenai prestasi belajar telah banyak di teliti sehingga penulis akan mendefinisikan beberapa pengertian prestasi dan pengertian prestasi akademik :

Marleri, dalam penelitiannya yang berjudul “Hubungan antara aktivitas belajar dengan prestasi belajar siswa mata pelajaran Pendidikan Agama Islam di SD No 03 Pulau Beringin kec. pulau  beringin kabupaten Oku selatan” beliau mengambil definisi dari bapak Dzamarah yang mendefinisikan: Prestasi adalah hasil dari suatu kegiatan yang lebih dikerjakan, diciptakan baik secara individu maupun kelompok[14] sejalan dengan hal ini, harapan mengemukakan bahwa prestasi adalah “penilaian pendidikan tentang perkembangan dan kemajuan murid yang berdasarkan dengan penguasaan bahwa pelajaran yang disajikan kepada mereka setelah nilai-nilai yang terdapat dalam kurikulum. [15]

Anna Triyana, “Pengaruh kecerdasan emosional terhadap prestasi belajar siswa di Madrasah Aliyah Negeri Kayu Agung Kecamatan Semendawai Barat kabupaten Oku Timur” Prestasi juga dapat dikatakan dengan hasil belajar yang meliputi “Segenap ranah psikologi yang berubah sebagai akibat pengalaman dan proses belajar siswa.[16] Seseorang setelah mengalami proses pendidikan atau latihan yang dilaksanakan dengan tekun dalam jangka waktu tertentu untuk mengukur seberapa jauh tingkat prestasi seseorang yang harus dicapai dengan tiga komponen yang menurut S. Blom yaitu ranah kognitif, ranah efektif, dan ranah motorik.[17]

Menurut zainal Arifin Kata prestasi banyak digunakan dalam bidang dan kegiatan antara lain dalam bidang kesenian, olahraga, dan pendidikan khususnya pengajaran prestasi yang dimaksud tidak lain adalah kemampuan keterapilan dan sikap seseorangdalam menyelesaikan suatu hal.[18]

Prestasi hasil belajar yang yang diperoleh oleh siswa adalah bentuk prestasi akademik sebagai bukti tertulis capaian pemahaman dan kemengertian seorang siswa terhadap mata pelajaran yang dipelajari dalam kurun waktu tertentu.

Pengertian prestasi belajar siswa dapat didefinisikan sebagai hasil dari usaha seorang siswa untuk memahami, mempelajari dan mengerti dengan berbagai disiplin ilmu yang dapat bersifat menggembirakan maupun menyedihkan. Yang berlaku adalah hal yang cukup rasional, jika sang siswa rajin dan giat belajar maka kemungkinan besar prestasi akademiknya akan baik, namun jika ia malas dan tidak tekun, hasilnya akan biasa-biasa saja bahkan bisa jadi menjadi kabar buruk bagi orang tua.[19]

Kesimpulan dari berbagai definisi diatas bahwa prestasi akademik yaitu adalah istilah untuk menunjukkan suatu pencapaian tingkat keberhasilan tentang suatu tujuan, karena suatu usaha belajar telah dilakukan oleh seseorang secara optimal.[20]

  1. F.     Tinjauan Kepustakaan

Untuk membantu penulis dalam penelitian ini, penulis mengkaji beberapa karya penelitian yang berhubungan dengan proposal ini. Adapun karya-karyanya tersebut antara lain :

Naimatun Zaidah, dalam penelitiannya yang berjudul “Pengaruh Penggunaan Media Belajar Terhadap Prestasi Siswa Dalam Mata Pelajaran Fiqih di Madrasah Tsanawiyah Al-fathoniah Karya Maju Kecamatan Keluang Kabupaten Musi Banyu Asin”. Mengemukakan bahwa dalam penggunaan media belajar terhadap prestasi siswa dapat meningkatkan prestasi belajar yang baik yang mempunyai korelasi yang signifikan. Semakin baik atau tinggi media yang digunakan dalam pembelajaran fiqih, maka akan semakin baik atau tinggi pula prestasi siswa dalam mata pelajaran fiqih di Madrasah Tsanawiyah Al-Fathoniyah Kecamatan Keluang Kabupaten Musi banyu Asin.[21] Kesamaan penelitian ini yaitu meniliti masalah penggunaan Media Belajar terhadap prestasi belajar sedangkan penulis lebih terfokus pada media internet dengan prestasi akademik.

Bandanaraika, dalam penelitiannya yang berjudul “Pengaruh penggunaan Media Terhadap Prestasi Belajar Siswa Bidang Studi Pendidikan Agama Islam di SD Negeri 95 Palembang. Mengemukakan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan antara Penggunaan Media Terhadap Prestasi Belajar Siswa Bidang Studi Pendidikan Agama Islam sangat kuat hubungannya (korelasi) dengan tinggi-rendahnya penggunaan media. prestasi belajar siswa rendah karena kurang penggunaan media dan begitu juga sebaliknya prestasi belajar siswa baik jika guru menggunakan media.[22]

Suriati, dalam penelitiannya yang berjudul “Penggunaan Media dalam Meningkatkan prestasi Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran Fiqih di Madrasah Ibtidaiyyah Ahliyah IV Palembang. Mengemukakan bahwa factor-faktor yang mempengaruhi penggunaan media dalam meningkatakan prestasi belajar ada dua, yaitu: factor pendukung, meliputi: memiliki media pembelajaran, menguasai media yang digunakan, dapat memperjelas materi pembelajaran, siswa tidak bosan dalam belajar, dan dapat meningkatkan prestasi belajar. Sedangkan factor penghambat meliputi: sekolah tidak memilliki media, sebagian guru membuat media, dan sebagian siswa tidak bertanya bila materi tidak jelas.[23]

Naam Saputra, dalam penelitiannya yang berjudul “Hubungan Konsep Diri dengan Prestasi Akademik Mahasiswa S1 Keperawatan Semester III Kelas Ekstensi PSIK FK USU Medan. Mengemukakan bahwa hal-hal yang mempengaruhi prestasi akademik tidak bias dilihat dari factor konsep diri saja, melainkan ada factor lain yang turut mempengaruhi. Di antara factor yang mempengaruhi tersebut termasuk intelegensi, minat, perhatian, kematangan emosional, dan kesiapan peserta didik dalam meningkatkan proses dan hasil belajar peserta didik dalam meningkatkan  proses dan hasil belajar yang akhirnya berpengaruh kepada peningkatan prestasi. [24] Dalam skripsinya ini lebih membahas konsep diri dengan prestasi akademik sedangkan penulis lebih kepada media internet dengan prestasi akademik.

Sugiyanto, dalam penelitiannya yang berjudul “Penentuan Kompetensi Mahasiswa Berdasarkan Prestasi Akademik, sertifikasi kompetensi, minat, dan Kegiatan pendukung” mengemukakan tentang hasil dari uasaha.

  1. Kompetensi merupakan salah satu faktor penting dalam bidang pendidikan (Perguruan Tinggi). Dengan memiliki kompetensi yang yang sesuai dengan bidang ilmu yang dipelajari, maka kualitas mahasiswa akan diakui dunia industri yang menjadi pasar bagi lulusan perguruan tinggi.
  2. Pencapaian kompetensi mahasiswa bisa direncanakan sejak awal perkuliahan, apabila mahasiswa memiliki/mengetahui tools dan parameter yang digunakan dalam mendapatkan bobot kompetensi tiap bidang kompetensi.[25]

I.  Metodologi Penelitian

Metode berasal dari kata “metode” yang berarti cara yang tepat untuk melakukan sesuatu. Dan “logos” yang berarti  ilmu atau pengetahuan. jadi metodologi adalah cara melakukan sesuatu dengan menggunakan pikiran secara seksama untuk mencapai suatu tujuan.[26] Kalau dihubungkan dengan penelitian, metodologi penelitian adalah suatu cara yang digunakan oleh seseorang peneliti dalam mengumpulkan data yang diperlukannya dalam kegiatan penelitiannya tersebut. Dalam kesempatan ini peneliti menggunakan pendekatan kualitatif melalui survey objek yang diteliti :

  1. Jenis dan Pendekatan Penelitian

Jenis penelitian yang akan penulis lakukan ini adalah jenis penelitian deskriptif, karena penulis akan menggambarkan sekaligus menganalisis hubungan media internet terhadap prestasi akademik mahasiswa, oleh karena itu perlu gambaran yang komperehensif untuk menjelaskan sehingga memberikan kontribusi yang baik pada mahasiswa itu  sendiri. Sedangkan penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif yaitu penulis akan memberikan sumbangan pemikiran seberapa besar hubungan media nternet terhadap prestasi akademik mahasiwa, karena kuantitatif sendiri adalah penelitian yang memaparkan analisis penelitiannya dengan angka dan menggunakan perhitungan statistik dalam menganalisisnya.

  1. Jenis dan Sumber Data
  2. Jenis data

Jenis data yang dihimpun dalam penelitian ini adalah data kualitatif yang meliputi tentang hubungan media internet terhadap prestasi akademik mahasiswa dan faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi akademik mahasiswa Fakultas Tarbiyah Jurusan Pendidikan Agama Islam IAIN Raden Fatah Palembang.

  1. Sumber Data

1)      Sumber data primer adalah sumber data yang dikumpulkan langsung dari tangan pertama, yaitu mahasiswa Fakultas Tarbiyah Jurusan Pendidikan Agama Islam IAIN Raden Fatah Palembang.

2)      Sumber data sekunder adalah sumber data yang mendukung yaitu keterangan dekan fakultas, kepala jurusan dan semua aspek yang mendukung penelitian.

  1. Populasi dan Sampel

Penelitian ini yang menjadi sasaran populasinya adalah seluruh mahasiswa Fakultas Tarbiyah Jurusan Pendidikan Agama Islam yang berjumlah 60 orang. Suharsimi Arikanto menyatakan, bahwa jika subjeknya kurang dari 100 lebih baik diambil semua, sehingga penelitian merupakan penelitian populasi dan jika jumlah subjeknya banyak dapat diambil antara 10 % – 15 % atau 20 % – 25 % atau lebih.[27]

Populasi yang diteliti adalah seluruh mahasiswa dan mahasiswi Fakultas Tarbiyah Jurusan Pendidikan Agama Islam dan pada penelitian ini penulis khususkan untuk meneliti Angkatan 2009.

Jumlah Mahasiswa  dan Mahasiswi Fakultas Tarbiyah Jurusan Pendidikan Agama Islam berjumlah 155 yang terbagi atas laki-laki berjumlah 61 orang dan perempuan berjumlah 94 orang Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut ini :

Tabel 1

Anggota Populasi dan Sampel

No

Kelas

Laki-laki

Perempuan

Jumlah

1

PAI 1

8

10

18

2

PAI 2

8

19

27

3

PAI 3

14

16

30

4

PAI 4

11

25

36

5

PAI 5

12

18

30

6

PAI 6

8

16

24

Jumlah

61

94

155

           

            Sedangkan sample yang diteliti sebanyak 46 setelah diambil 30 % dari populasi yang berjumlah 155 untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada table berikut ini :

Tabel 2

Anggota Sampel

No

Kelas

Laki-laki

Perempuan

TPS

Jumlah

1

PAI 1

2

3

30 %

5

2

PAI 2

2

6

30 %

8

3

PAI 3

4

5

30 %

9

4

PAI 4

2

7

30 %

9

5

PAI 5

2

5

30 %

7

6

PAI 6

2

5

30 %

7

Jumlah

14

31

30 %

45

 

  1. Desain Variabel Penelitian

Variabel penelitian ini dapat dilihat pada skema berikut ini :

Variabel pengaruh                               Variabel terpengaruh

 

Prestasi Akademik Mahasiswa

Media Internet

 

 

 

  1. Teknik Pengumpulan Data

Adapun teknik pengumpulan data dalam penelitian ini, ada beberapa teknik yang digunakan, diantaranya adalah :

  1. Observasi

Observasi atau yang disebut pula dengan pengamatan adalah meliputi kegiatan pemuatan perhatian terhadap suatu objek dengan menggunakan seluruh alat indera, dapat dilakukan dengan penglihatan, penciuman, pendengaran, peraba dan pengecap.[28] Dalam penelitian ini menggunakan metode observasi untuk mengamati dan mencatat secara sistematis tentang hubungan media internet terhadap peningkatan prestasi akademik mahasiswa Fakultas Tarbiyah jurusan Pendidikan Agama Islam IAIN Raden Fatah Palembang.

  1. Angket

Angket adalah sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memperoleh sejumlah informasi dari responden dalam arti laporan tentang pribadinya atau hal yang ia ketahui.[29] Dalam hal ini angket ditujukan kepada mahasiswa Fakultas Tarbiyah Jurusan Pendidikan Agama Islam untuk memperoleh data tentang media internet dan prestasi akademik mahasiswa.

  1. Wawancara

Teknik ini digunakan untuk memperoleh data tentang pendalaman angket yang disebar dan dianalisis serta untuk memberikan pendalaman terhadap tentang sejarah, kondisi subjektif media internet dan prestasi akademik mahasiswa dan hal yang dianggap perlu.

  1. Dokumentasi

Dokumentasi, teknik ini digunakan untuk memperoleh data tentang jumlah mahasiswa, sarana dan prasarana serta data lain yang dianggap perlu.

  1. Teknik Analisis Data

Adapun analisis data yang digunakan yaitu analisis deskriptif yang berupa  hasil angket yang telah disebarkan kepada mahasiswa yang belajar di Fakultas Tarbiyah Jurusan Pendidikan Agama Islam untuk mengetahui bagaimana penggunaan media internet itu sendiri, kemudian diperkuat dengan menggunakan wawancara untuk mendapatkan penjelasan kebenaran dari aangket. Adapun rumus yang dipakai dalam menganalisis hubungan media internet terhadap peningkatan prestasi akademik mahasiswa itu adalah sebagai berikut :

  1. Mencari Nilai Statistik Dasar yang diperoleh dari data penyebaran angket variabel hubungan media internet dan prestasi akademik mahasiswa Fakultas Tarbiyah Jurusan Pendidikan Agama Islam IAIN Raden Fatah Palembang.
  2. Mencari Jumlah Kuadrat (JK), dengan rumus :

JKX =  – {( : N}

  1. Mencari Jumlah Produk (JP), dengan rumus :

JPxy =  – {(

  1. Mencari Koefisien Korelasi, dengan rumus :

Rxy = JPxy : {(JKX)(JKY)}

  1. Mengkonsultasi Nilai R Hitung dengan R Tabel dalam hal ini penulis memakai standar statistic yaitu Harga Tabel R Product Moment untuk N.
  2. Menginterpretasi Hasil Analisis
  3. Mencari Koefisien Determinasi Rxy2
  4. Menginterpretasi Hasil Analisis yang dilihat dari efektivitas hubungan atau pengaruh antara dua variabel.
  5. Menyimpulkan Hasil Analisis
  6. J.      Sistematika Pembahasan

Adapun yang menjadi sistematika pembahasan dalam proposal ini dapat disusun sebagai berikut :

Bab pertama Pendahuluan yang meliputi : latar belakang masalah, identifikasi masalah, rumusan masalah,   tujuan dan kegunaan penelitian, kerangka teori, tinjauan kepustakaan, variabel penelitian, metodologi penelitian, dan sistematika pembahasan.

Bab kedua Landasan Teori yang meliputi : pengertian media Internet,  pengertian prestasi akademik, hubungan antara media internet dan prestasi akademik.

Bab ketiga Kondisi Objektif Wilayah Penelitian yang meliputi : sejarah dan letak geografis Institut, visi, misi, tujuan pendidikan, struktur organisasi, keadaan mahasiswa dan, keadaan sarana dan prasarana.

Bab empat Analisa Data yang meliputi tentang pengaruh media internet dengan prestasi akademik mahasiswa Fakultas Tarbiyah Jurusan Pendidikan Agama Islam Angkatan 2009.

Bab lima   Penutup pada bab ini peneliti menarik kesimpulan dan saran dari uraian pada bab-bab sebelumnya, kemudian dilengkapi dengan daftar pustaka dan lampiran-lampiran yang dianggap perlu.

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Arifin, Zainal, Evaluasi IntruksionalPsinsip Tehnik, Prosedur, Bandung : Remaja Rosdakarya, 1991.

 

Arikunto, Suharsimi, Prosesdur Penelitian Suatu Penelitian Praktek, Jakarta : Rineka Cipta, 1992.

 

Arsyad, Azhar, Media Pengajaran, Jakarta : Raja Grafindo, 1997.

Bahri, Syaiful Djamar, Penggunaan Media Sumber Belajar dalam Proses Belajar Mengajar,  Jakarta : Rineka Cipta, 2002.

 

Bandanaraika, “Pengaruh penggunaan Media Terhadap Prestasi Belajar Siswa Bidang Studi Pendidikan Agama Islam di SD Negeri 95,  Palembang. : Fakultas  Tarbiyah Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Raden Fatah, 2009.

 

Departemen Agama RI. Al-Qur’an dan Terjemahnya. Jakarta :Indah Press, 2002

Kamarga, Hanny, Belajar Sejarah Melalui E-Learning Alternatif Mengakses Sumber Informasi Kesejarahan, PT.  Intimedia Jakarta dan pustaka nusantara bandung, 2002.

 

Marleri, “Hubungan Antara Aktivitas Belajar dengan Prestasi Belajar Siswa Mata Pelajaran PAI di SD No 03 Pulau Beringin kec. pulau  beringin kabupaten Oku selatan”. Skripsi, Palembang: Fakultas Tarbiyah IAIN Raden Fatah, 2010

 

Syaiful Bahri Djamarah, Prestasi Belajar dan kompetensi Guru, Surabaya : Usaha Nasional, 1994.

 

Rohani, Ahmad, Abu Ahmadi, “Pengelolaan Pengajaran”, Jakarata : Rineka Cipta, 1995.

 

Setiawan, Meraih Nilai Akademik Maksimal, 2006 dapat dibuka pada situs

http://www.pend-tinggi.com/nilai098+akademik/html.

 

Sobur, Psikologi Umum, Bandung : Pustaka Setia, 2006.  Dan dapat dibuka pada situs http://www.pend-tinggi.com/nilai098+akademik/html.

 

Sudijono, Anas, Pengantar Statistik Pendidikan, Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada, 2003.

 

Sugiyanto, “Penentuan Kompetensi Mahasiswa Berdasarkan Prestasi Akademik, sertifikasi kompetensi, minat, dan Kegiatan pendukung” ,  2009.

 

Suriati, “Penggunaan Media dalam Meningkatkan prestasi Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran Fiqih di MI Ahliyah IV”. Skripsi, Palembang: Fakultas  Tarbiyah Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Raden, 2009.

 

Triana, Anna, “Pengaruh Kecerdasan Emosional Terhadap Prestasi Belajar siswa di Man kayu agung kec. Semendawai Barat kab. Oku Timur”. Skripsi, Palembang: Fakultas Tarbiyah IAIN Raden Fatah, 2009.

 

Zaidah, Naimatun, “Pengaruh Penggunaan Media Belajar Terhadap Prestasi SIswa Dalam Mata Pelajaran Fiqih di MTS Al-fathoniah Karya Maju Kecamatan Keluang Kabupaten MUBA”, Palembang : Fakultas  Tarbiyah Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Raden Fatah, 2010.

 

http://en.wikipedia.org/wiki/Internet

http://darunnajah-cipining.com/enaknya-belajar-lewat-internet-tips/

http://www.anneahira.com/pengertian-prestasi-belajar-siswa-6547.htmhttp://en.wikipedia.org/wiki/Internet/

http://www.anneahira.com/pengertian-prestasi-belajar-siswa-6547.htm

http://www.google.com/search?ie=UTF-8&oe=UTF- 8&sourceid=navclient&gfns=1&q=pengertian+prestasi+akademik


[1] Hanny Kamarga, Belajar Sejarah Melalui E-Learning Alternatif Mengakses Sumber Informasi Kesejarahan, (Jakarta: Intimedi dan Pustaka Nusantara Bandung, 2002),  hal 43.

[2] Ibid.

[5] Departemen Agama RI. Al-Qur’an dan Terjemahnya. (Jakarta :Indah Press, 2002), hal. 793

 [6]Ibid., hal. 43

[8]  Op Cit, hal. 47.

[9] Sobur, Psikologi Umum, (Bandung : Pustaka Setia, 2006).  Dan dapat dibuka pada situs http://www.pend-tinggi.com/nilai098+akademik/html.

[10] Setiawan, Meraih Nilai Akademik Maksimal, 2006 dapat dibuka pada situs

http://www.pend-tinggi.com/nilai098+akademik/html.

 

[11] Syaiful Bahri Djamar, Penggunaan Media Sumber Belajar dalam Proses Belajar Mengajar,  (Jakarta : Rineka Cipta, 2002), hal. 136-139

[12] Azhar Arsyad, Media Pengajaran, (Jakarta : Raja Grafindo, 1997), hal. 3

                [14]Marleri, Hubungan antara aktivitas belajar dengan prestasi belajar siswa mata pelajaran PAI di SD No 03 Pulau Beringin kec. pulau  beringin kabupaten Oku selatan”. Skripsi, (Palembang: Fak.Tarbiyah IAIN Raden Fatah, 2010), hal. 44. atau dapat dilihat di buku : Syaiful Bahri Djamarah, Prestasi Belajar dan kompetensi Guru, (Surabaya : Usaha Nasional, 1994), hal. 19

[15] Ibid., hal. 21

[16] Anna Triana, “Pengaruh Kecerdasan Emosional Terhadap Prestasi Belajar siswa di Man kayu agung kec. Semendawai Barat kab. Oku Timur”. Skripsi, (Palembang: Fak. Tarbiyah IAIN Raden Fatah, 2009), hal. 28

[17] Ahmad Rohani, Abu Ahmadi, “Pengelolaan Pengajaran”,  (Jakarata : Rineka Cipta, 1995), hal. 41

                [18] Zainal Arifin, Evaluasi IntruksionalPsinsip Tehnik, Prosedur, (Bandung : Remaja Rosdakarya, 1991), hal. 3

[20] Op.cit., Setiawan, 2006. dan dapat dibuka pada situs

http://www.pend-tinggi.com/nilai098+akademik/html.

[21] Naimatun Zaidah, “Pengaruh Penggunaan Media Belajar Terhadap Prestasi SIswa Dalam Mata Pelajaran Fiqih di MTS Al-fathoniah Karya Maju Kecamatan Keluang Kabupaten MUBA”.  Skripsi, (Palembang : Fak.  Tarbiyah Institut Agama Islam Negeri IAIN Raden Fatah, 2010), hal. 62-63

[22] Bandanaraika, “Pengaruh penggunaan Media Terhadap Prestasi Belajar Siswa Bidang Studi Pendidikan Agama Islam di SD Negeri 95” Skripsi, (Palembang. : Fak.  Tarbiyah Institut Agama Islam Negeri IAIN Raden Fatah, 2009), Hal. 55

[23] Suriati “Penggunaan Media dalam Meningkatkan Prestasi Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran Fiqih di MI Ahliyah IV”. Skripsi, (Palembang : Fak.  Tarbiyah Institut Agama Islam Negeri IAIN Raden Fatah), 2009. hal. 56

[24]http://www.google.com/search?ie=UTF-8&oe=UTF- 8&sourceid=navclient&gfns=1&q=pengertian+prestasi+akademik

[25] Sugiyanto, “Penentuan Kompetensi Mahasiswa Berdasarkan Prestasi Akademik, sertifikasi kompetensi, minat, dan Kegiatan pendukung” ,  2009, Hal. 773.

                [26]Choid Narbuko dan Abu Ahmadi, Metodologi Penelitian, (Bumi Aksara : Jakarta, 2007), hal. 1

                [27] Suharsimi Arikanto, Prosedur Penelitian : Satuan Pendekatan Praktek, (Jakarta: Rineka Cipta: 2006),  hal. 120

                [28]Ibid, hlm. 156-157

                [29] Ibid. hlm. 151

PENDEKATAN STUDI ISLAM & ANEKA METODOLOGI MEMAHAMI ISLAM

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Agama merupakan kebutuhan yang perlu diperhatikan dalam kehidupan manusia, oleh karena nya manusia disebut sebagai makhluk yang beragama (homo religius). Allah menciptakan manusia sebagai makhluk yang berakal, diberinya rasa bingung dan bimbang untuk memahami dan belajar mengenali alam sekitarnya sehingga kemudian muncul penyembahan terhadap api, matahari atau benda-benda lainnya. Salah satu ciri fitrah adalah bahwa manusia menerima Allah sebagai Tuhan dengan kata lain manusia itu adalah dari asal mempunyai kecenderungan beragama sebab agama itu sebagian dari fithrahnya.

Banyak cara pendekatan untuk memahami agama diantaranya melalui pendekatan sosiologi, filosofis, historis, psikologi dan kebudayaan. Yang dimaksud dengan pendekatan disini adalah cara pandang atau paradigma yang terdapat dalam suatu bidang ilmu yang selanjutnya digunakan dalam memahami agama. Dengan beragam pendekatan itu kita diajak untuk dapat menyelami agama lebih dalam dari berbagai sudut sehingga mampu menganalisa seberapa besar pengaruh agama dalam kehidupan bermasyarakat. Akan banyak muncul beragam pertanyaan dalam pembahasan mengenai hal ini misal bagaimana pengaruh agama pada individu, bagaimana pengaruh sosial nya, bagaimana pengaruhnya pula dalam segi kehidupan yang lebih kompleks dan masih banyak lagi.

 

B. Rumusan Masalah

A. Pendekatan Studi Islam

a. Pendekatan Teologi Normatif
b. Pendekatan Antropologis
c. Pendekatan Sosiologis
d. Pendekatan fenomenologis

e. Pendekatan Filosofis

f. Pendekatan Historis ( Sejarah )

g. Pendekatan Kebudayaan

h. Pendekatan Psikologis
B. Metodologi Memahami Islam
a. Metodologi Ulumul Tafsir
b. Metodologi Ulumul Hadits
c. Metodologi Filsafat
d.Metodologi Pendidikan Islam

 

PEMBAHASAN

A. Pendekatan Studi Islam

Sebagaimana yang akan kami bahas di bawah ini secara umum studi Islam bertujuan untuk menggali kembali dasar-dasar dan pokok-pokok ajaran Islam sebagaimana yang ada dalam sumber dasarnya yang bersifat hakiki, universal dan dinamis serta abadi (eternal). Untuk dihadapkan atau dipertemukan dengan budaya atau dunia modern. Agar mampu memberikan alternatif pemecahan masalah yang dihadapi oleh umat manusia pada umumnya dan umat Islam pada khususnya. Dengan tujuan tersebut maka studi Islam akan menggunakan cara pendekatan yang sekiranya relevan yaitu pendekatan kesejarahan, kefilsafatan dan pendekatan ilmiah. Namun demikian sebagaimana telah dikemukakan bahwa sifat studi Islam ini adalah memadukan antara studi Islam yang bersifat konvensional dengan studi Islam yang bersifat ilmiah, sehingga pendekatan doktriner tidaklah dapat diabaikan.

Pendekatan studi islam meliputi :

a)      Pendekatan Teologi Normatif

Menurut M. Amin Abdullah teologi pasti mengacu kepada agama tertentu. Pendekatan teologis normatif dalam memahami agama secara harfiah dapat diartikan sebagai upaya memahami agama dengan menggunakan empiris dari suatu keagamaan dianggap sebagai yang paling benar. Menurut pengamatan Sayyed Hosein Nasr, dalam era komtemporer ada 4 prototipe pemikiran keagamaan Islam yaitu pemikiran keagamaan fundalisme, modernis, mislanis, dan tradisionalis. Salah satu ciri teolog masa kini adalah sifat kritisnya. Sikap kritis ini ditujukan pertama-tama pada agamanya sendiri (agama sebagai institusi sosial dan kemudian juga kepada situasi yang dihadapinya). Penggunaan ilmu-ilmu sosial dalam teologi merupakan fenomena baru dalam teologi.

Menurut M. Amin Abdullah teologi pasti mengacu kepada agama tertentu. Pendekatan teologis normatif dalam memahami agama secara harfiah dapat diartikan sebagai upaya memahami agama dengan menggunakan empiris dari suatu keagamaan dianggap sebagai yang paling benar.  Kemudian muncul terobosan baru untuk melihat pemikiran teologi masa kritis yang termanifestasikan dalam budaya tertentu secara lebih objektif lewat pengamatan empiris faktual. Menurut Ira M. Lapindus istilah teologi masa kritis yaitu suatu usaha manusia untuk memahami penghayatan imannya atau penghayatan agamanya.

Dalam pendekatan teologis memahami agama adalah pendekatan yang menekankan bentuk formal simbol-simbol keagamaan, mengklaim sebagai agama yang paling benar, yang lainnya salah sehingga memandang bahwa paham orang lain itu keliru, kafir, sesat, dan murtad. Pendekatan teologis normatif dalam memahami agama secara harfiah dapat diartikan sebagai upaya memahami agama dengan menggunakan kerangka ilmu ketuhanan yang bertolak dari suatu keyakinan bahwa wujud empiris dari keagamaan dianggap sebagai yang paling benar dibandingkan dengan yang lainnya.

Pendekatan teologis dalam memahami agama cenderung bersikap tertutup, tidak ada dialog yang saling menyalahkan dan mengkafirkan, yang ada pada akhirnya terjadi pembagian-pembagian umat, tidak ada kerja sama dan tidak terlihat adanya kepedulian sosial. Melalui pendekatan teologis ini agama dapat menjadi buta terhadap masalah-masalah sosial cenderung menjadi lambang atau identitas yang tidak memiliki makna. Pendekatan teologis juga erat kaitannya dengan ajaran pokok dari Tuhan yang di dalamnya belum terdapat penularan pemikiran manusia. Dalam pendekatan teologis agama dilihat sebagai suatu kebenaran mutlak dari Tuhan, tidak ada keraguan sedikitpun dan tampak bersikap ideal. Dalam kaitan ini agama tampil prima dengan seperangkat ciri yang khas.

Pendekatan teologis dalam memahami agama menggunakan cara berpikir deduktif, yaitu cara berpikir yang berawal dari keyakinan yang diyakini benar dan mutlak adanya, karena ajaran yang berasal dari Tuhan sudah pasti benar sehingga tidak perlu diperytanyakan terlebih dahulu, melainkan dimulai daari keyakinan yang selanjutnya diperkuat dengan dalil-dalil dan argumentasi. Pendekatan teologis tersebut menunjukkan adanya kekurangan yang antara lain bersifat ekslusif, dogmatis, tidak mau mengakui kebenaran agama lain. Sedangkan kelebihannya melalui pendekatan teologis normatif ini seseorang akan memiliki sikap militansi dalam beragama, yakni berpegang teguh kepada agama yang diyakininya sebagai yang benar, tanpa memandang dan meremehkan agama lainnya. Dengan pendekatan yang demikian seseorang akan memiliki sikap fanatis terhadap agama yang dianutnya.

Pendekatan teologis ini selanjutnya erat kaitannya dengan pendekatan normatif, yaitu pendekatan yang memandang agama dari segi ajarannya yang pokok dan asli dari Tuhan yang di dalamnya belum terdapat penalaran pemikiran manusia. Dalam pendekatan teologis ini agama dilihat dari suatu kebenaran mutlak dari Tuhan, tidak ada kekurangan sedikitpun dan nampak bersikap ideal. Dalam kaitan ini agama tampil sangat prima dengan seperangkat cirinya yang khas. Untuk agama Islam misalnya, secara normatif pasti benar, menjunjung nilai-nilai luhur. Untuk bidang sosial agama tampil menawarkan nialai-nilai kemanusiaan, kebersmaan, tolong-menolong, tenggang ras, persamaan derajat dan sebagainya. Untuk untuk bidang ilmu pengetahuan, agama tampil mendorong pemeluknya agar memiliki ilmu pengetahuan dan teknologi setinggi-tingginya, menguasai keterampilan, keahlian dan sebagainya.

 

b) Pendekatan Antropologis

Antropologi adalah ilmu tentang manusia khususnya tentang asal usul, aneka warna bentuk fisik, adat istiadat, dan kepercayaan pada masa lampau. Menurut kamus umum, antropologi adalah ilmu pengetahuan tentang m,anusia mengenai asalnya, perkembangannya, jenis (bangsaanya) dan kebudayaanya. Antropologi dibagi 2, yaitu antropologi fisik dan antropologi budaya, termasuk etimologi dn ilmu bahasa.

Antropologi adalah ilmu yang berusaha mencapai pengertian tentang makhluk manusia dengan mempelajari aneka bentuk fisik, kepribadian, masyarakat, serta kebudayaanya. Pendekatan dan studi agama membuahkan antropologi agama yang dapat dikatakan sebagian dari antropologi budaya, bukan antropologi sosial. Antropologi agama sebagai bagian dari ilmu agama yang sistematis. Metode antropologi pada umumnya adalah objek sekelompok manusia yang biasanya manusia sederhana dalam kebudayaan hidupnya, artinya meliputi seluruh aspek budaya.

Antropologi, sebagai sebuah ilmu yang mempelajari manusia, menjadi sangat penting untuk memahami agama. Antropologi mempelajari tentang manusia dan segala perilaku mereka untuk dapat memahami perbedaan kebudayaan manusia. Dibekali dengan pendekatan yang holistik dan komitmen antropology akan pemahaman tentang manusia, maka sesungguhnya antropologi merupakan ilmu yang penting untuk mempelajari agama dan interaksi sosialnya dengan berbagai budaya. Nurcholish Madjid mengungkapkan bahwa pendekatan antropologis sangat penting untuk memahami agama Islam, karena konsep manusia sebagai ‘khalifah’ (wakil Tuhan) di bumi, misalnya, merupakan simbol akan pentingnya posisi manusia dalam Islam.

Melalui pendekatan antropologi dapat dilihat bahwa agama ternyata berkorelasi dengan kerja dan perkembangan ekonomi suatu masyarakat. Dalam hubungan ini seseorang ingin mengubah pandangan dan sikap etos kerja maka dapat dilakukan dengan cara mengubah pandangan keagamaannya. Melalui pendekatan antropologi ini kita juga dapat melihat hubungan antara agama dan negara (state and religion). Selanjutnya dapat ditemukan pula keterkaaitan agama dengan psikoterapi.
Melalui pendekatan antropologi terlihat dengan jelas hubungan agama dengan berbagai masalah kehidupan manusia, dan dengan itu pula agama terlihat akrab dn fungsional dengan berbagai fenomena kehidupan manusia.

c)  Pendekatan Sosiologi

Selo Soemardjan dan Soelaeman Soemardi menyatakan Sosiologi atau ilmu masyarakat adalah ilmu yang mempelajari struktur sosial dan proses-proses sosial termasuk perubahan-perubahan sosial. Sosiologi jelas merupakan ilmu sosial yang objeknya adalah masyarakat. Merupakan ilmu yang berdiri sendiri karena telah memenuhi segenap unsur-unsur ilmu pengetahuan yang ciri-ciri utamanya yaitu:

1. Sosiologi bersifat empiris, artinya selalu didasarkan pada observasi terhadap kenyataan dan akal sehat dan hasilnya tidak spekulatif.
2. Sosiologi bersifat teoritis yaitu berusaha menyusun abstraksi dari hasil-hasil observasi. Abstraksi tersebut merupakan kerangka unsur-unsur yang tersusun secara logis serta bertujuan untuk menjelaskan hubungan sebab akibat sehingga menjadi teori.
3. Sosiologi bersifat kumulatif yaitu teori-teori sosiologi dibentuk atas dasar teori yang sudah ada dalam arti memperbaiki, memperluas teori yang lama.
4. Sosiologi bersifat non etis yakni yang dipersoalkan bukanlah baik buruk fakta tertentu akan tetapi tujuannya adalah untuk menjelaskan fakta tersebut secara analitis.

Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari hidup bersama dalam masyarakat, dan menyelidiki ikatan-ikatan antara manusia yang menguasai hidupnya itu. Sosiologi mencoba mengerti sifat dan maksud hidup bersama, cara terbentuk dan tumbuh serta berubahnya perserikatan-perserikatan hidup itu serta pula kepercayaanya, keyakinan yang memberi sifat tersendiri kepada cara hidup bersama itu dalam tiap persekutuan hidup bersama.

 

d) Pendekatan Fenomenologis

Menurut Adams, terdapat dua hal penting yang mencirikan pendekatan fenomenologi dalam kajian agama (islam). Pertama, fenomenologi adalah metode untuk memahami agama seseorang yang termasuk di dalamnya usaha sebagian sarjana dalam mengkaji pilihan dan komitmen mereka secara ‘netral’ sebagai persiapan untuk melakukan rekonstruksi pengalaman orang lain. Kedua, konstruksi skema taksonomik untuk mengklasifikasikan fenomena dibenturkan dengan batas-batas budaya dan kelompok religius. Secara umum pendekatan ini hanya menangkap sisi pengalaman keagamaan dan kesamaan reaksi keberagamaan semua manusia secara sama tanpa memperhatikan dimensi ruang dan waktu  dan perbedaan budaya masyarakat. [1]

Arah pendekatan fenomenologi adalah memberikan penjelasan makna secara jelas tentang ritual dan upacara keagamaan, doktrin, dan reaksi sosial terhadap pelaku keagamaan.[2] Singkatnya, pendekatan fenomenologi ialah ingin menempatkan pengetahuan pada pengalaman manusia serta mengaitkan pengetahuan dengan hidup dan kehidupan manusia sebagai konteksnya. [3]

Istilah fenomenologi berasal dari bahasa Yunani pahainomenon yang berarti gejala atau apa yang menampakkan diri pada kesadaran kita. Dalam hal ini fenomenologi merupakan sebuah pendekatan filsafat yang berpusat pada analisis terhadap gejala yang membanjiri kesadaran manusia. Metode ini dirintis oleh Edmund Husserl (1859-1938). Secara operasional, fenomenologi agama menerapkan metodologi ‘ilmiah’ dalam meneliti fakta religius yang bersifat subyektif seperti pikiran, perasaan, ide, emosi, maksud, pengalaman, dan apa saja dari seseorang yang diungkapkan dalam tindakan luar (fenomena).[4] Maka dari itu, dalam operasionalnya pendekatan fenomenologi membutuhkan perangkat lain, misalkan sejarah, filologi, arkeologi, psikologi, sosiologi, antropologi, dan sebagainya.

e) Pendekatan Filosofis

Yang dimaksud adalah melihat suatu permasalahan dari sudut tinjauan filsafat dan berusaha untuk menjawab dan memecahkan permasalahan itu dengan menggunakan analisis spekulatif. Pada dasarnya filsafat adalah berfikir untuk memecahkan masalah atau pertanyaan dan menjawab suatu persoalan. Namun demikian tidak semua berfikir untuk memecahkan dan menjawab permasalah dapat disebut filsafat. Filsafat adalah berfikir secara sistematis radikal dan universal. Di samping itu, filsafat mempunyai bidang (objek yang difikirkan) sendiri yaitu bidang permasalahan yang bersifat filosofis yakni bidang yang terletak diantara dunia ketuhanan yang gaib dengan dunia ilmu pengetahuan yang nyata. Dengan demikian filsafat yang menjembatani kesenjangan antara masalah-masalah yang bersifat keagamaan semata-mata (teologis) dengan masalah yang bersifat ilmiah (ilmu pengetahuan). Namun filsafat tidak mau menerima segala bentuk bentuk otoritas, baik dari agama maupun ilmu pengetahuan. Filsafat selalu memikirkan kembali atau mempertanyakan segala sesuatu yang datang secara otoritatif, sehingga mendatangkan pemahaman yang sebenar-benarnya yang selanjutnya bisa mendatangkan kebijaksanaan (wisdom) dan menghilangkan kesenjangan antara ajaran-ajaran agama Islam dengan ilmu pengetahuan modern sebagaimana yang sering dipahami dan menggejala di kalangan umat selama ini.

 

f) Pendekatan Historis ( Sejarah )

Dalam bahasa Arab, sejarah disebut “ tarikh”, artinya “ ketentuan masa “. Selain itu, kata tarikh juga dipakai dalam arti” perhitungan waktu”. Dalam bahasa Inggris, sejarah disebut “ history” yang berarti the development of everrything in time ( perkembangan segala sesuatu dalam masalah). Dalam kamus bahasa inggris dijelaskan bahwa sejarah adalah event in the past ( peristiwa-peristiwa masa lampau).[5]Jadi, sejarah adalah ilmu yang mempelajari peristiwa-peristiwa masa lampau yang meliputi tempat, waktu, obyek, subyek, dan latar belakang peristiwa tersebut.

Pendekatan sejarah merupakanmetode yang penting dalam penelitian agama. Sebab agama itu sendiri tidak turun dalamsuasan kehampaan, melainkan turun dalam situasi yang konkrit bahkan berkaitan erat dengan kondisi sosial kemasyarakatan. Selain itu, jika kita perhatikan, maka Al-Qur’an sendiriseakan memberi “ lampau hijau” bagi pendekatan sejarah dengan mengemukakan ayat-ayat seputar kisah-kisah sejarah dan perumpamaan.

Metode ilmu sejarah, menurut Taufik Abdullah[6] menekankan pada proses terjadinya suatu perilaku manusia dalam masyarakat. Proses itu menjelaskan awal kejadian dan faktor-faktor yang ikut berperan dalam proses tersebut. Melalui pendekatan sejarah ini, seseorang diajak untuk memasuki keadaan yang  sebenarnya berkenaan dengan penerapan suatu peristiwa.

g) Pendekatan Kebudayaan

Kebudayaan menurut Sidi Gazalba[7] adalah cara berfikr, merasa, dan mewujudkan diri dalam seluruh segi kehidupan dari segolongan manusia yang membentuk  kesatuan sosial, dalam ruang dan wktu tertentu. Sementara itu, Bierstedt, seperti dikutip oleh Imran Manan [8]mengumukakan bahwa  kebudayaan adalah satu keseluruhan yang kompleks, yang mencakup semua cara kita berfikir dan berbuat, serta semua apa yang kita miliki sebagai anggot suatu masyarakat.

Dedngan demikian, kebudayaan adalah hasil daya cipta, rasa, dan kars manusia dengan menggunakan seluruh potensi yang dimilikinya sebagai anggota nasyarakat dalam rangka mempertahankan eksisitensinya. Kebudayaan hanya berwujud fisik, seperti benda-benda, tetapi juga berwujud non fisik seperti pengetahuan, keyakinan, seni, moral, atau adat-istiadat. Kebudayaan di wariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya secara turun temurun.

Kebudayaan dapat pula digunakan untuk memahami agama yang terdapat pada tataran empirs atau agama yang tampil dalam bentuk formal yang menggejala dalam masyarakat.[9] Sebab pengamalan agam yang terdapat di masyarakat tersebut sudah melewati proses penalaran, yaitu penalaran atas sumber  agama ( wahyu ), dan kitab-kitag fiqh.  Dengan pendekatan kebudayaan  seseorang dapat memilah-milah antara ajaran agama yang sesungguhnya ( murni wahyu Tuhan / Al –Qur’an ) dengan praktek keagamaan yang sudah bercampur dengan kebudayaan masyarakat setempat.

 

 

 

h) Pendekatan Psikologis

Psikologi adalah ilmu pengetahuan tentang tingkah laku dan kehidupan pisik  ( kejiwaan ) manusia. [10] Menurut Tadjib, [11] psikologi adalah kata lain dari ilmu jiwa yaitu ilmu yang membahas tentang jiwa. Jiwa adalah sesuatu yang  abstrak dan tidak bisa di definisikan secara pasti. Oleh sebab itu, yang menjadi sasaran dalam psikologi bukanlah jiwa, tetapi gejala-gejala yang tampak dalam perilaku lahiriah manusia.

Menurut  Zakiah Darajdat, [12] siakap dan tingkah laku atau mekanisme yang bekerja dalam diri seseorang, baik cara berikir, bersikap, bereaksi, dan bertingkah laku, tidak bisa dipisahkan dari keyakinannya, kerana keyakinan itu masuk dalam kontruksi kepribadiannya. Hal ini berarti terdapat hubungan yang erat antara agama sebagai suatu sistem keyakinan dengan kondisi kejiwaan seseorang yang pada gilirannya tampak pada perilaku lahiriah manusia. Sebab, agama akan selalu menjadi acuan bagi orang yang memeluknya dlam bersikap dan berperilaku.

Dengan psikologi, seseorang selain akan mengetahui tngkat keagamaan yang dihayati, dipahami dan diamalkan seseorang juga dapat di gunakan sebagai alat untuk memasukkan ajaran agama ke dalam jiwa seseorang seseuai tingkatan usianya.[13]

 

B. Metodologi Memahami Islam

a.  Metodologi Ulumul Tafsir

Tafsir adalah sebuah ilmu yang berperan dalam menjelaskan ayat-ayat al-Qur’an kepada manusia, agar dapat lebih dipahami. Yang dimaksud dengan metodologi penafsiran dalam hal ini ialah cara-cara menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an.

 

Latar Belakng Penelitian Tafsir

Pada saat Al-Qur’an diturunkan lima belas abad yang lalu, Nabi Muhammad SAW yang berfungsi sebagai pemberi penjelasan telah menjelaskan arti dan kandungan al-Qur’an kepada para sahabtnya, khususnya menyangkut ayat-ayat yang tidak dipahami atau sama artinya . Keadaan ini berlangsung sampai wafatnya Nabi Muhammad SAW.

Setelah Nabi wafat tidak ada lagi tempat bertanya langsung bagi para sahabat, sehingga mereka melakukan ijtihad. Pada mulanya, usaha penafsiran ayat-ayat Al-Qur’an berdasarkan ijtihad masih sangat terbatas, namun dengan berkembangbangnya masyarakat, maka semakin berkembang pula porsi peranan akal atau ijtihad  dalam penafsiran ayat-ayat al-Qur’an , sehingga bermuncullah kitab-kitab tafsir  yang beraneka ragam coraknya.

Macam-Macam Metode Penafsiran

1. Metode Tahlily

Metode tahlily adalah suatu metode tafsir yang bermaksud menjelaskan kandungan ayat-ayat al-Qur’an dari segi seluruh aspek. Kelebihan metode ini menurut Taufik Adnan Amal,[14] antara lain adalah potensi untuk memperkaya arti kata-kata melalui usaha penafsiran terhadao kosa kata ayat, syair-syair kuno, dan kaidah-kaodah ilmu nahwu. Penafsirannya menyangkut segala aspek dan analisis ayat dilakukan secara mendalam sesuai dengan keahlian mufassir.

2. Metode Ijmaly

Metode ijmali atau juga disebut juga dengan metode global adalah cara menafsirkan ayat-ayat al-Quran dengan menunjukkan kandungan makna pada suatu ayat secara global.

3. Metode Muqarin

Yang dimaksud metode ini adalah mengemukakan penafsiran ayat-ayat al-Quran yang ditulis oleh sejumlah penafsir. Dalam hal ini, seorang penafsir menghimpun sejumlah ayat al-Quran, lalu ia mengkaji dan meneliti penafsiran sejumlah penafsir mengenai ayat tersebut melalui kitab-kitab tafsir mereka.

4. Metode Mawadhu’i

Metode mawadhu’i adalah cara menafsirkan al Quran dengan menghimpun ayat-ayatnya  yang mempunyai maksud yang sama atau ayat-ayat yang membicarakan tentang topik yang sama dan menyusunnya berdasarkan kronologi serta sebab-sebab turunnya tersebut[15].

 

b. Metodologi Ulumul Hadist

Menurut bahasa hadist berasal dari bahasa arab, yaitu dari kata hadatsa, hadtsan. Haditsan  dengan pengertian yang bermacam-macam. Kata tersebut misalnya, dapatv  berarti jadiid atau sesuatu yang baru, sebagai lawan dari kata al Qadim yang berarti sesuatu yang sudah kuno atau klasik.Secara terminologi  hadist adalah perkatan, perbuatan, atau taqrir Nabi Muhamad yang disandarkan pada para sahabat atau tabi’in.

 Model Penelitian Hadist

Menurut Abuddi Nata,[16] terdapat beberapa model penelitian hadist pada periode belakangan ini, antara lain:

1. Model Penelitian Quraish Shihab

2. Model Penelitian Musthafa al-Siba’iy

3. Model penelitian Muhammad al Ghazali

 

c) Metodologi  Filsafat

Menurut Harun Natution yang dikutip Zuhairini, dkk,.[17] Filsafat berasal dari bahasa Yunani yang tersusun dari dua kata “ philein” dalam arti cinta dan “sophos” dalam arti hikmat ( wisdom). Selanjutnya beliau menjelaskan filsafat sebagai berikut:

  • Pengetahuan tentang hikamt
  • Pengetahuan tentang prinsip atau dasar-dasar
  •  Mencari kebenaran
  • Membahas dasar-dasar dari apa yang dibahas.

Selain itu filsafat juda bisa diartikan mencari hakikat sesuatu, berusaha menautkan sebab dan akibat, dan berusaha menafsirkan pengalaman pengalaman manusia.[18]

Secara umum filsafat islam bisa diartikan sebagai filsafat yang berdasarkan dan bersumberkan dari ajaran agama Islam ( al-Quran dan Hadits)

Model Penelitian Filsafat

1.  Model M. Amin abdullah

2.  Model Otto Horrassowitz, Majid Fakhry dan harun Nasution

 

d. Metodologi Pendidikan Islam

Pendidkan merupakan usaha untuk membina dan mengembangkan pribadi manusia dari aspek-aspek rohaniah  dan jasmaniah secara bertahap. Menurut Zakiah Daradjat pendidikan islam adalah lebih banyak di tujukan kepada perbaikan sikap mental yang akan terwujud dalam almal perbuatan seseorang, baik dari keperluannya sendiri maupun orang lain.

{   Model Penelitian Pendidikan Islam

Dilihat dari segi obyek kajiannya, ilmu pendidikan dapat di bagi menjadi tiga bagian, yaitu:

1. Pengetahuan ilmu

2.Pengetahuan filsafat

3. Pengethuan mistik

Beberapa contoh model penelitian pendidikan islam versi Abuddin Nata, yaitu:

1. Model penelitian tentang problema guru

2. Model penelitian tentang lembaga pendidikan islam

3. Model penelitian kultur pendidikan Islam

  • Model penelitian Mastuhu
  • Model penelitian Zamakhsyari Dhofier

 

C. KESIMPULAN

1. Pendekatan merupakan paradigma yang terdapat dalam suatu bidang ilmu yang gunakan dalam memahami agama.

2. Pendekatan teologis normatif dapat diartikan sebagai upaya memahami agama dengan menggunakan empiris dari suatu keaagamaan dianggap sebagai yang paling benar.
3. Pendekatan antropologi dapat diartikan sebagai salah satu upaya dalam memahami agama dengan melihat wujud praktik keagamaan yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat.

4. Pendekatan sosiologi adalah mempersoalkan fungsi dan perkembangan integrasi-integrasi sosial atau geraaakan-geraakan sosial keagamaan.
5. Pendekatan filosofis adalah melihat suatu permasalahan dari sudut tinjauan filsafat dan berusaha untuk menjawab dan memecahkan permasalahan itu dengan menggunakan analisis spekulatif.

6. Pendekatan historis adalah ilmu yang mempelajari peristiwa-peristiwa masa lampau yang meliputi tempat, waktu, obyek, subyek, dan latar belakang peristiwa tersebut.

7. Pendekatan Kebudayaan hasil daya cipta, rasa, dan kars manusia dengan menggunakan seluruh potensi yang dimilikinya sebagai anggota nasyarakat dalam rangka mempertahankan eksisitensinya.

8. Tafsir adalah sebuah ilmu yang berperan dalam menjelaskan ayat-ayat al-Qur’an kepada manusia.

9. hadist adalah perkatan, perbuatan, atau taqrir Nabi Muhamad yang disandarkan pada para sahabat atau tabi’in.

10. filsafat adalah Pengetahuan tentang hikam,Pengetahuan tentang prinsip atau dasar-dasar, Mencari kebenaran dan Membahas dasar-dasar dari apa yang dibahas.

11. Pendidkan merupakan usaha untuk membina dan mengembangkan pribadi manusia dari aspek-aspek rohaniah  dan jasmaniah secara bertahap.

 

D. PENUTUP

Demikian makalah yang dapat kami sampaikan. Semoga sedikit uraian kami ini dapat memberikan manfaat bagi kita semua. Kami sangat menyadari, bahwa makalah ini jauh dari kesempurnaan. Maka dari itu kami  sangat mengharapkan adanya kritikan yang konstruktif dan sistematis dari Dosen Pembimbing dan sahabat-sahabat pembaca, guna melahirkan sebuah perbaikan dalam penyusulan makalah selanjutnya yang lebih baik. Trimakasih…


[1] Charles J. Adams, Islamic Religious Tradition, 49-50/

 

[2]  Muhammad Latif, “Telaah atas karya Charles J. Adams”.

[3] Aholib Watloly, Tanggung Jawab Pengetahuan: Mempertimbangkan Epistemologi secara Kultural, (Yogyakarta: Kanisius; Pustaka Filsafat, 2001), 95.

[4] Lorens Bagus, Kamus Filsafat, (Jakarta: Gramedia, cet. IV, 2005), 234-239.

[5]  Hanan Asrohah, Sejarah Pendidikan Islam ( Jakarta: Logo, 1999), hlm.8

[6]  Taufik Abdullah ,” Studi  Islam Kontemporer: Sintesis Pendekatan Sejarah, Sosiologi dan Antropologi dalam Mengkaji Fenomena Keagamaan “, dalamTaufik Abdullah dan M. Rusli Karim ( Editor) hlm 9

[7]  Sidi gazalba, Pengantar Kebudayaan sebagi Ilmu, cetakan ketiga, ( Jakarta : Pustaka Antara, 1968), hlm 44

[8]  Imran Manan, Dasar-Dasar Sosial Budaya Pendidikan, ( Jakarta: Departemen P&K, 1989), hlm. 10

[9]  Abuddin Nata, Op.Cit., hlm. 49

[10]  Kartini Kartono, Psikologi umum, ( Bandung: Mandar Maju, 1990), hlm. 1

[11]  Tadjib, Ilmu Jiwa Pendidikan, ( Surabaya : Karya Abditama, 1994), hlm. 8

[12]  Zakiah Daradjat, Ilmu Jiwa Agama, ( Jakarta: Bulan Bintang 1991), Cetakan ke-13, hlm. 2

[13]  Abuddin Nata, Op.Cit., hlm.51

[14]  Dikutip oleh Abuddin Nata, Op.Cit. hlm 129

[15]  Ibid., hlm. 36

[16]  Ibid., hlm.240

[17]  Zuhairini, dkk., Filsafat Pendidikan Islam,( Jakarta: Bumi Aksara, 1995), hlm.3-4

[18]  Omar Muhammad Al-Thoumy Al-Syaibany, Falsafah Pendidikan Islam, terj. Hasan Langgulung ,( Jakarta: Bulan Bintang, 1979), hlm. 35

Hello world!

Welcome to WordPress.com. After you read this, you should delete and write your own post, with a new title above. Or hit Add New on the left (of the admin dashboard) to start a fresh post.

Here are some suggestions for your first post.

  1. You can find new ideas for what to blog about by reading the Daily Post.
  2. Add PressThis to your browser. It creates a new blog post for you about any interesting  page you read on the web.
  3. Make some changes to this page, and then hit preview on the right. You can always preview any post or edit it before you share it to the world.