Skip to content

PENDEKATAN STUDI ISLAM & ANEKA METODOLOGI MEMAHAMI ISLAM

Desember 21, 2012

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Agama merupakan kebutuhan yang perlu diperhatikan dalam kehidupan manusia, oleh karena nya manusia disebut sebagai makhluk yang beragama (homo religius). Allah menciptakan manusia sebagai makhluk yang berakal, diberinya rasa bingung dan bimbang untuk memahami dan belajar mengenali alam sekitarnya sehingga kemudian muncul penyembahan terhadap api, matahari atau benda-benda lainnya. Salah satu ciri fitrah adalah bahwa manusia menerima Allah sebagai Tuhan dengan kata lain manusia itu adalah dari asal mempunyai kecenderungan beragama sebab agama itu sebagian dari fithrahnya.

Banyak cara pendekatan untuk memahami agama diantaranya melalui pendekatan sosiologi, filosofis, historis, psikologi dan kebudayaan. Yang dimaksud dengan pendekatan disini adalah cara pandang atau paradigma yang terdapat dalam suatu bidang ilmu yang selanjutnya digunakan dalam memahami agama. Dengan beragam pendekatan itu kita diajak untuk dapat menyelami agama lebih dalam dari berbagai sudut sehingga mampu menganalisa seberapa besar pengaruh agama dalam kehidupan bermasyarakat. Akan banyak muncul beragam pertanyaan dalam pembahasan mengenai hal ini misal bagaimana pengaruh agama pada individu, bagaimana pengaruh sosial nya, bagaimana pengaruhnya pula dalam segi kehidupan yang lebih kompleks dan masih banyak lagi.

 

B. Rumusan Masalah

A. Pendekatan Studi Islam

a. Pendekatan Teologi Normatif
b. Pendekatan Antropologis
c. Pendekatan Sosiologis
d. Pendekatan fenomenologis

e. Pendekatan Filosofis

f. Pendekatan Historis ( Sejarah )

g. Pendekatan Kebudayaan

h. Pendekatan Psikologis
B. Metodologi Memahami Islam
a. Metodologi Ulumul Tafsir
b. Metodologi Ulumul Hadits
c. Metodologi Filsafat
d.Metodologi Pendidikan Islam

 

PEMBAHASAN

A. Pendekatan Studi Islam

Sebagaimana yang akan kami bahas di bawah ini secara umum studi Islam bertujuan untuk menggali kembali dasar-dasar dan pokok-pokok ajaran Islam sebagaimana yang ada dalam sumber dasarnya yang bersifat hakiki, universal dan dinamis serta abadi (eternal). Untuk dihadapkan atau dipertemukan dengan budaya atau dunia modern. Agar mampu memberikan alternatif pemecahan masalah yang dihadapi oleh umat manusia pada umumnya dan umat Islam pada khususnya. Dengan tujuan tersebut maka studi Islam akan menggunakan cara pendekatan yang sekiranya relevan yaitu pendekatan kesejarahan, kefilsafatan dan pendekatan ilmiah. Namun demikian sebagaimana telah dikemukakan bahwa sifat studi Islam ini adalah memadukan antara studi Islam yang bersifat konvensional dengan studi Islam yang bersifat ilmiah, sehingga pendekatan doktriner tidaklah dapat diabaikan.

Pendekatan studi islam meliputi :

a)      Pendekatan Teologi Normatif

Menurut M. Amin Abdullah teologi pasti mengacu kepada agama tertentu. Pendekatan teologis normatif dalam memahami agama secara harfiah dapat diartikan sebagai upaya memahami agama dengan menggunakan empiris dari suatu keagamaan dianggap sebagai yang paling benar. Menurut pengamatan Sayyed Hosein Nasr, dalam era komtemporer ada 4 prototipe pemikiran keagamaan Islam yaitu pemikiran keagamaan fundalisme, modernis, mislanis, dan tradisionalis. Salah satu ciri teolog masa kini adalah sifat kritisnya. Sikap kritis ini ditujukan pertama-tama pada agamanya sendiri (agama sebagai institusi sosial dan kemudian juga kepada situasi yang dihadapinya). Penggunaan ilmu-ilmu sosial dalam teologi merupakan fenomena baru dalam teologi.

Menurut M. Amin Abdullah teologi pasti mengacu kepada agama tertentu. Pendekatan teologis normatif dalam memahami agama secara harfiah dapat diartikan sebagai upaya memahami agama dengan menggunakan empiris dari suatu keagamaan dianggap sebagai yang paling benar.  Kemudian muncul terobosan baru untuk melihat pemikiran teologi masa kritis yang termanifestasikan dalam budaya tertentu secara lebih objektif lewat pengamatan empiris faktual. Menurut Ira M. Lapindus istilah teologi masa kritis yaitu suatu usaha manusia untuk memahami penghayatan imannya atau penghayatan agamanya.

Dalam pendekatan teologis memahami agama adalah pendekatan yang menekankan bentuk formal simbol-simbol keagamaan, mengklaim sebagai agama yang paling benar, yang lainnya salah sehingga memandang bahwa paham orang lain itu keliru, kafir, sesat, dan murtad. Pendekatan teologis normatif dalam memahami agama secara harfiah dapat diartikan sebagai upaya memahami agama dengan menggunakan kerangka ilmu ketuhanan yang bertolak dari suatu keyakinan bahwa wujud empiris dari keagamaan dianggap sebagai yang paling benar dibandingkan dengan yang lainnya.

Pendekatan teologis dalam memahami agama cenderung bersikap tertutup, tidak ada dialog yang saling menyalahkan dan mengkafirkan, yang ada pada akhirnya terjadi pembagian-pembagian umat, tidak ada kerja sama dan tidak terlihat adanya kepedulian sosial. Melalui pendekatan teologis ini agama dapat menjadi buta terhadap masalah-masalah sosial cenderung menjadi lambang atau identitas yang tidak memiliki makna. Pendekatan teologis juga erat kaitannya dengan ajaran pokok dari Tuhan yang di dalamnya belum terdapat penularan pemikiran manusia. Dalam pendekatan teologis agama dilihat sebagai suatu kebenaran mutlak dari Tuhan, tidak ada keraguan sedikitpun dan tampak bersikap ideal. Dalam kaitan ini agama tampil prima dengan seperangkat ciri yang khas.

Pendekatan teologis dalam memahami agama menggunakan cara berpikir deduktif, yaitu cara berpikir yang berawal dari keyakinan yang diyakini benar dan mutlak adanya, karena ajaran yang berasal dari Tuhan sudah pasti benar sehingga tidak perlu diperytanyakan terlebih dahulu, melainkan dimulai daari keyakinan yang selanjutnya diperkuat dengan dalil-dalil dan argumentasi. Pendekatan teologis tersebut menunjukkan adanya kekurangan yang antara lain bersifat ekslusif, dogmatis, tidak mau mengakui kebenaran agama lain. Sedangkan kelebihannya melalui pendekatan teologis normatif ini seseorang akan memiliki sikap militansi dalam beragama, yakni berpegang teguh kepada agama yang diyakininya sebagai yang benar, tanpa memandang dan meremehkan agama lainnya. Dengan pendekatan yang demikian seseorang akan memiliki sikap fanatis terhadap agama yang dianutnya.

Pendekatan teologis ini selanjutnya erat kaitannya dengan pendekatan normatif, yaitu pendekatan yang memandang agama dari segi ajarannya yang pokok dan asli dari Tuhan yang di dalamnya belum terdapat penalaran pemikiran manusia. Dalam pendekatan teologis ini agama dilihat dari suatu kebenaran mutlak dari Tuhan, tidak ada kekurangan sedikitpun dan nampak bersikap ideal. Dalam kaitan ini agama tampil sangat prima dengan seperangkat cirinya yang khas. Untuk agama Islam misalnya, secara normatif pasti benar, menjunjung nilai-nilai luhur. Untuk bidang sosial agama tampil menawarkan nialai-nilai kemanusiaan, kebersmaan, tolong-menolong, tenggang ras, persamaan derajat dan sebagainya. Untuk untuk bidang ilmu pengetahuan, agama tampil mendorong pemeluknya agar memiliki ilmu pengetahuan dan teknologi setinggi-tingginya, menguasai keterampilan, keahlian dan sebagainya.

 

b) Pendekatan Antropologis

Antropologi adalah ilmu tentang manusia khususnya tentang asal usul, aneka warna bentuk fisik, adat istiadat, dan kepercayaan pada masa lampau. Menurut kamus umum, antropologi adalah ilmu pengetahuan tentang m,anusia mengenai asalnya, perkembangannya, jenis (bangsaanya) dan kebudayaanya. Antropologi dibagi 2, yaitu antropologi fisik dan antropologi budaya, termasuk etimologi dn ilmu bahasa.

Antropologi adalah ilmu yang berusaha mencapai pengertian tentang makhluk manusia dengan mempelajari aneka bentuk fisik, kepribadian, masyarakat, serta kebudayaanya. Pendekatan dan studi agama membuahkan antropologi agama yang dapat dikatakan sebagian dari antropologi budaya, bukan antropologi sosial. Antropologi agama sebagai bagian dari ilmu agama yang sistematis. Metode antropologi pada umumnya adalah objek sekelompok manusia yang biasanya manusia sederhana dalam kebudayaan hidupnya, artinya meliputi seluruh aspek budaya.

Antropologi, sebagai sebuah ilmu yang mempelajari manusia, menjadi sangat penting untuk memahami agama. Antropologi mempelajari tentang manusia dan segala perilaku mereka untuk dapat memahami perbedaan kebudayaan manusia. Dibekali dengan pendekatan yang holistik dan komitmen antropology akan pemahaman tentang manusia, maka sesungguhnya antropologi merupakan ilmu yang penting untuk mempelajari agama dan interaksi sosialnya dengan berbagai budaya. Nurcholish Madjid mengungkapkan bahwa pendekatan antropologis sangat penting untuk memahami agama Islam, karena konsep manusia sebagai ‘khalifah’ (wakil Tuhan) di bumi, misalnya, merupakan simbol akan pentingnya posisi manusia dalam Islam.

Melalui pendekatan antropologi dapat dilihat bahwa agama ternyata berkorelasi dengan kerja dan perkembangan ekonomi suatu masyarakat. Dalam hubungan ini seseorang ingin mengubah pandangan dan sikap etos kerja maka dapat dilakukan dengan cara mengubah pandangan keagamaannya. Melalui pendekatan antropologi ini kita juga dapat melihat hubungan antara agama dan negara (state and religion). Selanjutnya dapat ditemukan pula keterkaaitan agama dengan psikoterapi.
Melalui pendekatan antropologi terlihat dengan jelas hubungan agama dengan berbagai masalah kehidupan manusia, dan dengan itu pula agama terlihat akrab dn fungsional dengan berbagai fenomena kehidupan manusia.

c)  Pendekatan Sosiologi

Selo Soemardjan dan Soelaeman Soemardi menyatakan Sosiologi atau ilmu masyarakat adalah ilmu yang mempelajari struktur sosial dan proses-proses sosial termasuk perubahan-perubahan sosial. Sosiologi jelas merupakan ilmu sosial yang objeknya adalah masyarakat. Merupakan ilmu yang berdiri sendiri karena telah memenuhi segenap unsur-unsur ilmu pengetahuan yang ciri-ciri utamanya yaitu:

1. Sosiologi bersifat empiris, artinya selalu didasarkan pada observasi terhadap kenyataan dan akal sehat dan hasilnya tidak spekulatif.
2. Sosiologi bersifat teoritis yaitu berusaha menyusun abstraksi dari hasil-hasil observasi. Abstraksi tersebut merupakan kerangka unsur-unsur yang tersusun secara logis serta bertujuan untuk menjelaskan hubungan sebab akibat sehingga menjadi teori.
3. Sosiologi bersifat kumulatif yaitu teori-teori sosiologi dibentuk atas dasar teori yang sudah ada dalam arti memperbaiki, memperluas teori yang lama.
4. Sosiologi bersifat non etis yakni yang dipersoalkan bukanlah baik buruk fakta tertentu akan tetapi tujuannya adalah untuk menjelaskan fakta tersebut secara analitis.

Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari hidup bersama dalam masyarakat, dan menyelidiki ikatan-ikatan antara manusia yang menguasai hidupnya itu. Sosiologi mencoba mengerti sifat dan maksud hidup bersama, cara terbentuk dan tumbuh serta berubahnya perserikatan-perserikatan hidup itu serta pula kepercayaanya, keyakinan yang memberi sifat tersendiri kepada cara hidup bersama itu dalam tiap persekutuan hidup bersama.

 

d) Pendekatan Fenomenologis

Menurut Adams, terdapat dua hal penting yang mencirikan pendekatan fenomenologi dalam kajian agama (islam). Pertama, fenomenologi adalah metode untuk memahami agama seseorang yang termasuk di dalamnya usaha sebagian sarjana dalam mengkaji pilihan dan komitmen mereka secara ‘netral’ sebagai persiapan untuk melakukan rekonstruksi pengalaman orang lain. Kedua, konstruksi skema taksonomik untuk mengklasifikasikan fenomena dibenturkan dengan batas-batas budaya dan kelompok religius. Secara umum pendekatan ini hanya menangkap sisi pengalaman keagamaan dan kesamaan reaksi keberagamaan semua manusia secara sama tanpa memperhatikan dimensi ruang dan waktu  dan perbedaan budaya masyarakat. [1]

Arah pendekatan fenomenologi adalah memberikan penjelasan makna secara jelas tentang ritual dan upacara keagamaan, doktrin, dan reaksi sosial terhadap pelaku keagamaan.[2] Singkatnya, pendekatan fenomenologi ialah ingin menempatkan pengetahuan pada pengalaman manusia serta mengaitkan pengetahuan dengan hidup dan kehidupan manusia sebagai konteksnya. [3]

Istilah fenomenologi berasal dari bahasa Yunani pahainomenon yang berarti gejala atau apa yang menampakkan diri pada kesadaran kita. Dalam hal ini fenomenologi merupakan sebuah pendekatan filsafat yang berpusat pada analisis terhadap gejala yang membanjiri kesadaran manusia. Metode ini dirintis oleh Edmund Husserl (1859-1938). Secara operasional, fenomenologi agama menerapkan metodologi ‘ilmiah’ dalam meneliti fakta religius yang bersifat subyektif seperti pikiran, perasaan, ide, emosi, maksud, pengalaman, dan apa saja dari seseorang yang diungkapkan dalam tindakan luar (fenomena).[4] Maka dari itu, dalam operasionalnya pendekatan fenomenologi membutuhkan perangkat lain, misalkan sejarah, filologi, arkeologi, psikologi, sosiologi, antropologi, dan sebagainya.

e) Pendekatan Filosofis

Yang dimaksud adalah melihat suatu permasalahan dari sudut tinjauan filsafat dan berusaha untuk menjawab dan memecahkan permasalahan itu dengan menggunakan analisis spekulatif. Pada dasarnya filsafat adalah berfikir untuk memecahkan masalah atau pertanyaan dan menjawab suatu persoalan. Namun demikian tidak semua berfikir untuk memecahkan dan menjawab permasalah dapat disebut filsafat. Filsafat adalah berfikir secara sistematis radikal dan universal. Di samping itu, filsafat mempunyai bidang (objek yang difikirkan) sendiri yaitu bidang permasalahan yang bersifat filosofis yakni bidang yang terletak diantara dunia ketuhanan yang gaib dengan dunia ilmu pengetahuan yang nyata. Dengan demikian filsafat yang menjembatani kesenjangan antara masalah-masalah yang bersifat keagamaan semata-mata (teologis) dengan masalah yang bersifat ilmiah (ilmu pengetahuan). Namun filsafat tidak mau menerima segala bentuk bentuk otoritas, baik dari agama maupun ilmu pengetahuan. Filsafat selalu memikirkan kembali atau mempertanyakan segala sesuatu yang datang secara otoritatif, sehingga mendatangkan pemahaman yang sebenar-benarnya yang selanjutnya bisa mendatangkan kebijaksanaan (wisdom) dan menghilangkan kesenjangan antara ajaran-ajaran agama Islam dengan ilmu pengetahuan modern sebagaimana yang sering dipahami dan menggejala di kalangan umat selama ini.

 

f) Pendekatan Historis ( Sejarah )

Dalam bahasa Arab, sejarah disebut “ tarikh”, artinya “ ketentuan masa “. Selain itu, kata tarikh juga dipakai dalam arti” perhitungan waktu”. Dalam bahasa Inggris, sejarah disebut “ history” yang berarti the development of everrything in time ( perkembangan segala sesuatu dalam masalah). Dalam kamus bahasa inggris dijelaskan bahwa sejarah adalah event in the past ( peristiwa-peristiwa masa lampau).[5]Jadi, sejarah adalah ilmu yang mempelajari peristiwa-peristiwa masa lampau yang meliputi tempat, waktu, obyek, subyek, dan latar belakang peristiwa tersebut.

Pendekatan sejarah merupakanmetode yang penting dalam penelitian agama. Sebab agama itu sendiri tidak turun dalamsuasan kehampaan, melainkan turun dalam situasi yang konkrit bahkan berkaitan erat dengan kondisi sosial kemasyarakatan. Selain itu, jika kita perhatikan, maka Al-Qur’an sendiriseakan memberi “ lampau hijau” bagi pendekatan sejarah dengan mengemukakan ayat-ayat seputar kisah-kisah sejarah dan perumpamaan.

Metode ilmu sejarah, menurut Taufik Abdullah[6] menekankan pada proses terjadinya suatu perilaku manusia dalam masyarakat. Proses itu menjelaskan awal kejadian dan faktor-faktor yang ikut berperan dalam proses tersebut. Melalui pendekatan sejarah ini, seseorang diajak untuk memasuki keadaan yang  sebenarnya berkenaan dengan penerapan suatu peristiwa.

g) Pendekatan Kebudayaan

Kebudayaan menurut Sidi Gazalba[7] adalah cara berfikr, merasa, dan mewujudkan diri dalam seluruh segi kehidupan dari segolongan manusia yang membentuk  kesatuan sosial, dalam ruang dan wktu tertentu. Sementara itu, Bierstedt, seperti dikutip oleh Imran Manan [8]mengumukakan bahwa  kebudayaan adalah satu keseluruhan yang kompleks, yang mencakup semua cara kita berfikir dan berbuat, serta semua apa yang kita miliki sebagai anggot suatu masyarakat.

Dedngan demikian, kebudayaan adalah hasil daya cipta, rasa, dan kars manusia dengan menggunakan seluruh potensi yang dimilikinya sebagai anggota nasyarakat dalam rangka mempertahankan eksisitensinya. Kebudayaan hanya berwujud fisik, seperti benda-benda, tetapi juga berwujud non fisik seperti pengetahuan, keyakinan, seni, moral, atau adat-istiadat. Kebudayaan di wariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya secara turun temurun.

Kebudayaan dapat pula digunakan untuk memahami agama yang terdapat pada tataran empirs atau agama yang tampil dalam bentuk formal yang menggejala dalam masyarakat.[9] Sebab pengamalan agam yang terdapat di masyarakat tersebut sudah melewati proses penalaran, yaitu penalaran atas sumber  agama ( wahyu ), dan kitab-kitag fiqh.  Dengan pendekatan kebudayaan  seseorang dapat memilah-milah antara ajaran agama yang sesungguhnya ( murni wahyu Tuhan / Al –Qur’an ) dengan praktek keagamaan yang sudah bercampur dengan kebudayaan masyarakat setempat.

 

 

 

h) Pendekatan Psikologis

Psikologi adalah ilmu pengetahuan tentang tingkah laku dan kehidupan pisik  ( kejiwaan ) manusia. [10] Menurut Tadjib, [11] psikologi adalah kata lain dari ilmu jiwa yaitu ilmu yang membahas tentang jiwa. Jiwa adalah sesuatu yang  abstrak dan tidak bisa di definisikan secara pasti. Oleh sebab itu, yang menjadi sasaran dalam psikologi bukanlah jiwa, tetapi gejala-gejala yang tampak dalam perilaku lahiriah manusia.

Menurut  Zakiah Darajdat, [12] siakap dan tingkah laku atau mekanisme yang bekerja dalam diri seseorang, baik cara berikir, bersikap, bereaksi, dan bertingkah laku, tidak bisa dipisahkan dari keyakinannya, kerana keyakinan itu masuk dalam kontruksi kepribadiannya. Hal ini berarti terdapat hubungan yang erat antara agama sebagai suatu sistem keyakinan dengan kondisi kejiwaan seseorang yang pada gilirannya tampak pada perilaku lahiriah manusia. Sebab, agama akan selalu menjadi acuan bagi orang yang memeluknya dlam bersikap dan berperilaku.

Dengan psikologi, seseorang selain akan mengetahui tngkat keagamaan yang dihayati, dipahami dan diamalkan seseorang juga dapat di gunakan sebagai alat untuk memasukkan ajaran agama ke dalam jiwa seseorang seseuai tingkatan usianya.[13]

 

B. Metodologi Memahami Islam

a.  Metodologi Ulumul Tafsir

Tafsir adalah sebuah ilmu yang berperan dalam menjelaskan ayat-ayat al-Qur’an kepada manusia, agar dapat lebih dipahami. Yang dimaksud dengan metodologi penafsiran dalam hal ini ialah cara-cara menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an.

 

Latar Belakng Penelitian Tafsir

Pada saat Al-Qur’an diturunkan lima belas abad yang lalu, Nabi Muhammad SAW yang berfungsi sebagai pemberi penjelasan telah menjelaskan arti dan kandungan al-Qur’an kepada para sahabtnya, khususnya menyangkut ayat-ayat yang tidak dipahami atau sama artinya . Keadaan ini berlangsung sampai wafatnya Nabi Muhammad SAW.

Setelah Nabi wafat tidak ada lagi tempat bertanya langsung bagi para sahabat, sehingga mereka melakukan ijtihad. Pada mulanya, usaha penafsiran ayat-ayat Al-Qur’an berdasarkan ijtihad masih sangat terbatas, namun dengan berkembangbangnya masyarakat, maka semakin berkembang pula porsi peranan akal atau ijtihad  dalam penafsiran ayat-ayat al-Qur’an , sehingga bermuncullah kitab-kitab tafsir  yang beraneka ragam coraknya.

Macam-Macam Metode Penafsiran

1. Metode Tahlily

Metode tahlily adalah suatu metode tafsir yang bermaksud menjelaskan kandungan ayat-ayat al-Qur’an dari segi seluruh aspek. Kelebihan metode ini menurut Taufik Adnan Amal,[14] antara lain adalah potensi untuk memperkaya arti kata-kata melalui usaha penafsiran terhadao kosa kata ayat, syair-syair kuno, dan kaidah-kaodah ilmu nahwu. Penafsirannya menyangkut segala aspek dan analisis ayat dilakukan secara mendalam sesuai dengan keahlian mufassir.

2. Metode Ijmaly

Metode ijmali atau juga disebut juga dengan metode global adalah cara menafsirkan ayat-ayat al-Quran dengan menunjukkan kandungan makna pada suatu ayat secara global.

3. Metode Muqarin

Yang dimaksud metode ini adalah mengemukakan penafsiran ayat-ayat al-Quran yang ditulis oleh sejumlah penafsir. Dalam hal ini, seorang penafsir menghimpun sejumlah ayat al-Quran, lalu ia mengkaji dan meneliti penafsiran sejumlah penafsir mengenai ayat tersebut melalui kitab-kitab tafsir mereka.

4. Metode Mawadhu’i

Metode mawadhu’i adalah cara menafsirkan al Quran dengan menghimpun ayat-ayatnya  yang mempunyai maksud yang sama atau ayat-ayat yang membicarakan tentang topik yang sama dan menyusunnya berdasarkan kronologi serta sebab-sebab turunnya tersebut[15].

 

b. Metodologi Ulumul Hadist

Menurut bahasa hadist berasal dari bahasa arab, yaitu dari kata hadatsa, hadtsan. Haditsan  dengan pengertian yang bermacam-macam. Kata tersebut misalnya, dapatv  berarti jadiid atau sesuatu yang baru, sebagai lawan dari kata al Qadim yang berarti sesuatu yang sudah kuno atau klasik.Secara terminologi  hadist adalah perkatan, perbuatan, atau taqrir Nabi Muhamad yang disandarkan pada para sahabat atau tabi’in.

 Model Penelitian Hadist

Menurut Abuddi Nata,[16] terdapat beberapa model penelitian hadist pada periode belakangan ini, antara lain:

1. Model Penelitian Quraish Shihab

2. Model Penelitian Musthafa al-Siba’iy

3. Model penelitian Muhammad al Ghazali

 

c) Metodologi  Filsafat

Menurut Harun Natution yang dikutip Zuhairini, dkk,.[17] Filsafat berasal dari bahasa Yunani yang tersusun dari dua kata “ philein” dalam arti cinta dan “sophos” dalam arti hikmat ( wisdom). Selanjutnya beliau menjelaskan filsafat sebagai berikut:

  • Pengetahuan tentang hikamt
  • Pengetahuan tentang prinsip atau dasar-dasar
  •  Mencari kebenaran
  • Membahas dasar-dasar dari apa yang dibahas.

Selain itu filsafat juda bisa diartikan mencari hakikat sesuatu, berusaha menautkan sebab dan akibat, dan berusaha menafsirkan pengalaman pengalaman manusia.[18]

Secara umum filsafat islam bisa diartikan sebagai filsafat yang berdasarkan dan bersumberkan dari ajaran agama Islam ( al-Quran dan Hadits)

Model Penelitian Filsafat

1.  Model M. Amin abdullah

2.  Model Otto Horrassowitz, Majid Fakhry dan harun Nasution

 

d. Metodologi Pendidikan Islam

Pendidkan merupakan usaha untuk membina dan mengembangkan pribadi manusia dari aspek-aspek rohaniah  dan jasmaniah secara bertahap. Menurut Zakiah Daradjat pendidikan islam adalah lebih banyak di tujukan kepada perbaikan sikap mental yang akan terwujud dalam almal perbuatan seseorang, baik dari keperluannya sendiri maupun orang lain.

{   Model Penelitian Pendidikan Islam

Dilihat dari segi obyek kajiannya, ilmu pendidikan dapat di bagi menjadi tiga bagian, yaitu:

1. Pengetahuan ilmu

2.Pengetahuan filsafat

3. Pengethuan mistik

Beberapa contoh model penelitian pendidikan islam versi Abuddin Nata, yaitu:

1. Model penelitian tentang problema guru

2. Model penelitian tentang lembaga pendidikan islam

3. Model penelitian kultur pendidikan Islam

  • Model penelitian Mastuhu
  • Model penelitian Zamakhsyari Dhofier

 

C. KESIMPULAN

1. Pendekatan merupakan paradigma yang terdapat dalam suatu bidang ilmu yang gunakan dalam memahami agama.

2. Pendekatan teologis normatif dapat diartikan sebagai upaya memahami agama dengan menggunakan empiris dari suatu keaagamaan dianggap sebagai yang paling benar.
3. Pendekatan antropologi dapat diartikan sebagai salah satu upaya dalam memahami agama dengan melihat wujud praktik keagamaan yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat.

4. Pendekatan sosiologi adalah mempersoalkan fungsi dan perkembangan integrasi-integrasi sosial atau geraaakan-geraakan sosial keagamaan.
5. Pendekatan filosofis adalah melihat suatu permasalahan dari sudut tinjauan filsafat dan berusaha untuk menjawab dan memecahkan permasalahan itu dengan menggunakan analisis spekulatif.

6. Pendekatan historis adalah ilmu yang mempelajari peristiwa-peristiwa masa lampau yang meliputi tempat, waktu, obyek, subyek, dan latar belakang peristiwa tersebut.

7. Pendekatan Kebudayaan hasil daya cipta, rasa, dan kars manusia dengan menggunakan seluruh potensi yang dimilikinya sebagai anggota nasyarakat dalam rangka mempertahankan eksisitensinya.

8. Tafsir adalah sebuah ilmu yang berperan dalam menjelaskan ayat-ayat al-Qur’an kepada manusia.

9. hadist adalah perkatan, perbuatan, atau taqrir Nabi Muhamad yang disandarkan pada para sahabat atau tabi’in.

10. filsafat adalah Pengetahuan tentang hikam,Pengetahuan tentang prinsip atau dasar-dasar, Mencari kebenaran dan Membahas dasar-dasar dari apa yang dibahas.

11. Pendidkan merupakan usaha untuk membina dan mengembangkan pribadi manusia dari aspek-aspek rohaniah  dan jasmaniah secara bertahap.

 

D. PENUTUP

Demikian makalah yang dapat kami sampaikan. Semoga sedikit uraian kami ini dapat memberikan manfaat bagi kita semua. Kami sangat menyadari, bahwa makalah ini jauh dari kesempurnaan. Maka dari itu kami  sangat mengharapkan adanya kritikan yang konstruktif dan sistematis dari Dosen Pembimbing dan sahabat-sahabat pembaca, guna melahirkan sebuah perbaikan dalam penyusulan makalah selanjutnya yang lebih baik. Trimakasih…


[1] Charles J. Adams, Islamic Religious Tradition, 49-50/

 

[2]  Muhammad Latif, “Telaah atas karya Charles J. Adams”.

[3] Aholib Watloly, Tanggung Jawab Pengetahuan: Mempertimbangkan Epistemologi secara Kultural, (Yogyakarta: Kanisius; Pustaka Filsafat, 2001), 95.

[4] Lorens Bagus, Kamus Filsafat, (Jakarta: Gramedia, cet. IV, 2005), 234-239.

[5]  Hanan Asrohah, Sejarah Pendidikan Islam ( Jakarta: Logo, 1999), hlm.8

[6]  Taufik Abdullah ,” Studi  Islam Kontemporer: Sintesis Pendekatan Sejarah, Sosiologi dan Antropologi dalam Mengkaji Fenomena Keagamaan “, dalamTaufik Abdullah dan M. Rusli Karim ( Editor) hlm 9

[7]  Sidi gazalba, Pengantar Kebudayaan sebagi Ilmu, cetakan ketiga, ( Jakarta : Pustaka Antara, 1968), hlm 44

[8]  Imran Manan, Dasar-Dasar Sosial Budaya Pendidikan, ( Jakarta: Departemen P&K, 1989), hlm. 10

[9]  Abuddin Nata, Op.Cit., hlm. 49

[10]  Kartini Kartono, Psikologi umum, ( Bandung: Mandar Maju, 1990), hlm. 1

[11]  Tadjib, Ilmu Jiwa Pendidikan, ( Surabaya : Karya Abditama, 1994), hlm. 8

[12]  Zakiah Daradjat, Ilmu Jiwa Agama, ( Jakarta: Bulan Bintang 1991), Cetakan ke-13, hlm. 2

[13]  Abuddin Nata, Op.Cit., hlm.51

[14]  Dikutip oleh Abuddin Nata, Op.Cit. hlm 129

[15]  Ibid., hlm. 36

[16]  Ibid., hlm.240

[17]  Zuhairini, dkk., Filsafat Pendidikan Islam,( Jakarta: Bumi Aksara, 1995), hlm.3-4

[18]  Omar Muhammad Al-Thoumy Al-Syaibany, Falsafah Pendidikan Islam, terj. Hasan Langgulung ,( Jakarta: Bulan Bintang, 1979), hlm. 35

From → Uncategorized

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: